KANALNEWS.co – Jakarta, Moda angkutan udara menempati posisi kedua terpenting setelah moda angkutan darat dalam fungsinya menggerakkan wisatawan nusantara (wisnus), angkutan udara dinilai memainkan peran sekaligus menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan pariwisata nusantara.

Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra), M. Faried, pihaknya mencatat pada 2012 kapasitas kursi penerbangan nasional yang memiliki rute domestik terjadwal sebanyak 99,82 juta yang melayani 117 kota di Indonesia.

“Kami menemukan fakta di lapangan bahwa angkutan udara memainkan peran signifikan setelah moda angkutan darat dalam memobilisasi wisnus di Indonesia,” ujar Faried di Jakarta, Senin (31/12/2012).

Menurut Fareid, angka ini meningkat cukup signifikan dibanding dengan kapasitas penerbangan domestik hanya sebanyak 81,7 juta kursi dan melayani 104 kota di Indonesia pada 2011.

Jika dirinci secara lebih detail maka Pulau Jawa memiliki 9 bandara berkapasitas 48,63 juta kursi di mana angka itu merupakan 48,72 persen dari seluruh kapasitas yang ada di Indonesia. Posisi kedua diduduki oleh Sumatera dengan 29 bandara berkapasitas 16,88 juta kursi atau 16,91 persen.

Kalimantan menempati posisi ketiga dengan 20 bandara berkapasitas 10,51 juta kursi atau 10,53 persen, kemudian Sulawesi dengan 11 bandara berkapasitas 10,36 juta kursi (10,53 persen), diikuti oleh Bali berkapasitas 5,7 juta kursi (5,7 persen), dan Papua dengan 20 bandara berkapasitas 3,56 juta kursi (3,57 persen).

“Kecuali Jakarta dan Banten, perjalanan wisnus masih dominan diwarnai oleh perjalanan intra provinsi,” kata Faried.

Untuk pengeluaran, transportasi masih menjadi pos terbesar yakni mencapai 40 persen.

Pihaknya juga  mencatat sektor MICE (Meeting, Incentives, Conference, and Exhibition) dalam negeri juga mendorong terjadinya pergerakan wisnus.

“Aktivitas MICE akan memberikan keseimbangan aktivitas bisnis manakala dilaksanakan saat rendah kunjungan atau low season,” katanya.

Bundling Paket Wisata

Bundling atau penggabungan airlines dan hotel berbintang yang ditawarkan dalam satu paket kepada konsumen terbukti cukup ampuh menjadi paket wisata terfavorit dan paling diminati (wisnus) sepanjang 2012.

“Selama 2012 bisnis perjalanan dan wisata di Indonesia umumnya meliputi gabungan dari usaha jasa khususnya jasa penerbangan dan hotel,” kata M. Faried.

Menurut Faried, paket wisata gabungan itu terbukti menjadi paket wisata yang paling banyak digunakan oleh wisnus, hal itu semakin didukung dengan kemudahan integrasi bisnis berbasis komputer melalui computer reservation system.

“Dengan computer reservation system menjadikan gabungan usaha penerbangan dan hotel berbintang saling terkait sedemikian rupa sehingga pemesanan paket wisata semakin mudah,” katanya.

Jumlah akomodasi yang sudah terklasifikasi sejak 2011 sudah sebanyak 17.112 hotel dengan kapasitas 427.820 kamar, dengan rincian hotel berbintang 1.688 hotel (9,9 persen) kapasitas 165.275 kamar (38,6 persen) dan hotel nonbintang 15.424 hotel kapasitas 262.545 kamar.

Sementara, distribusi akomodasi menempatkan Jawa sebagai lokasi hotel terbanyak mencapai 8.275 hotel (48,36 persen) berkapasitas 219.081 kamar (51,21 persen), jumlah itu diikuti oleh Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku.

“Saya mengamati bahwa jika pariwisata Indonesia ingin meningkatkan kualitasnya maka hotel berbintang harus didorong okupansinya,” pungkasnya.

Penulis : Dara Lidya

Editor : Herwan Pebriansyah