Foto dok Kementerian PPPA

 

Kanalnews.co, JAKARTA – Menteri PPPA Arifah Fauzi menyampaikan permohonan maaf usai usulannya memindahkan gerbong kereta wanita di tengah menuai sorotan.
Ia mengakui ucapannya keliru dan tidak tepat.

“Pernyataan saya kurang tepat,” ujarnya.

Kontroversi ini bermula dari tragedi memilukan ketika rangkaian KRL dihantam kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur. Ironisnya, gerbong khusus perempuan menjadi bagian yang terdampak dalam insiden tersebut.

Alih-alih meredakan suasana, usulan Arifah untuk memindahkan posisi gerbong wanita ke tengah justru memicu polemik. Banyak pihak menilai pernyataan itu terkesan menyederhanakan persoalan keselamatan dan seolah membedakan tingkat risiko antara penumpang.

Kini, Arifah mencoba meluruskan. Ia menegaskan tidak pernah berniat membandingkan keselamatan perempuan dan laki-laki. Baginya, keselamatan seluruh penumpang adalah harga mati.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas nomor satu, tanpa membedakan,” tegasnya.

Akibat insiden tabrakan tersebut, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka
KNKT masih mendalami penyebab kecelakaan tersebut. (ads)