KanalNews.co, Medan – Bupati Langkat Syah Afandin menyoroti masih maraknya konsumsi kental manis sebagai minuman susu untuk anak. Ia menegaskan pentingnya pelurusan informasi tentang produk kental manis, mengingat produk tersebut kerap ikut disertakan dalam donasi bantuan sosial dan bencana.

Hal itu disampaikan Syah Afandin dalam pertemuan dengan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah bersama jajaran Pengurus Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Langkat serta Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) di kantor Bupati Langkat, Kamis, 23 April 2026.

“Informasi tentang kental manis ini memang harus ada edukasi agar masyarakat sadar,” kata Afandi. Ia mengakui, kebiasaan konsumsi kental manis dan makanan instan oleh anak-anak kelak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.

Oleh karena itu, dalam masa pemulihan bencana di wilayahnya, Syah Afandi mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam menyalurkan bantuan pangan. Ia berharap agar tidak lagi menyertakan pangan praktis minim gizi seperti kental manis. “Saya menyadari itu (pangan instan) bahaya, apalagi jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang,” ujar Syah Afandin.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 15 kecamatan di Kabupaten Langkat ikut terdampak banjir bandang pada November 2025 kemarin. Rata-rata ketinggian air mencapai 2 meter mengakibatkan rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, perkebunan, peternakan dan akses jalan. Hingga saat ini, masyarakat setempat masih mengeluhkan distribusi bantuan pasca banjir yang tidak merata.

Dalam kesempatan itu, Syah Afandin juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan program pemulihan masyarakat du wilayah bencana yang dilakukan ‘Aisyiyah bersama YAICI. “Saya setuju, bantuan-bantuan masih diperlukan, tapi edukasi gizi untuk masyarakat juga tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya.

Edukasi gizi akan menyasar masyarakat korba banjir di Dusun Seu Sirah, Kecamatan Besitang. Anggota Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Hirfa Turrahmi mengatakan kegiatan edukasi melibatkan jajaran PDA, kader dan perangkat dusun setempat.

“Kecamatan Besitang menjadi titik pertama edukasi dan pemulihan gizi masyarakat korban bencana yang akan dilakukan tahun ini. Total kegiatan edukasi akan menyasar 3 lokasi pasca bencana,” jelas Hirfa Turrahmi.

‘Aisyiyah sendiri sudah sejak 2018 memberi perhatian terhadap kesalahan konsumsi kental manis. Kandungan gulanya yang tinggi serta kesalahan persepsi masyarakat yang masih menganggap kental manis sebagai susu mendorong ‘Aisyiyah bersama YAICI turut menggencarkan edukasi gizi untuk masyarakat.

Ibu dan Balita Korban Banjir di Besitang Mendapat Edukasi Gizi

Sementara itu, sebanyak lebih dari 100 ibu dan balita menghadiri kegiatan edukasi gizi dan pemberian makanan bergizi yang dilaksanakan di SMP Muhammadyah, Besitang pada Jum’at , 24 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua tentang pentingnya asupan gizi seimbang bagi tumbuh kembang anak, khususnya dalam situasi pascabencana.

Disamping memberikan edukasi tentang makanan bergizi untuk ibu-ibu, dilakukan juga aktivitas trauma healing untuk anak-anak. Sementara edukasi gizi untuk anak-anak dilakukan dengan cara minum susu bersama yang dilanjutkan dengan dongeng dan mewarnai komik edukasi gizi.

Ketua PDA Kabupaten Langkat dr.Yulia Afrina Nasution mengatakan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman bagi anak-anak kenapa pentingnya kita mengonsumsi makanan bergizi. “Tidak hanya orang tua, tapi anak-anak sendiri perlu paham kenapa kita perlu minum susu, tapi susu yang memang ditujukan untuk pertumbuhan anak, susu yang mengandung protein hewani dan zat gizi essential yang sangat bagus untuk pertumbuhan,” ujar Yulia.

Lebih lanjut, Yulia yang juga dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FKIK UMSU) ini menjelaskan kenapa kebiasaan salah konsumsi susu oleh anak-anak seperti kental manis dan susu berperisa lainnya perlu diberantas.

“Standar konsumsi gula harian anak adalah 24 gram per hari. Bisanya sudah cukup dari makanan sehari-hari seperti nasi. Jika kebiasaan konsumsi gula tinggi ini kita tidak awasi tentu berpengaruh terhadap kesehatan mereka kelak diusia dewasa,” ucap Yulia.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2971-1998, kandungan gula dalam kental manis mencapai sekitar 40–50 persen dari total komposisinya, sementara kandungan protein hanya berkisar 7–10 persen. Oleh karena itu, konsumsi kental manis berlebih berisiko memicu masalah kesehatan di kemudian hari.

“Lihat sekarang banyak anak yang alami gagal ginjal akibat konsumsi gula berlebih,” ungkap Yulia khwatir. (adt)