Jakarta, KanalNews.co – Secara diam-diam, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengadakan sebuah pertemuan dengan sejumlah pihak pada Senin , 13 September 2021 di kantornya untuk membicarakan mengenai wacana perubahan batas toleransi migrasi Bisfenol A (BPA) dalam kemasan makanan dan minuman dari sebelumnya 0,6  bagian per juta (bpj, mg/kg) menjadi 0,1 bpj. Tidak hanya itu, pertemuan itu juga mewacanakan pelabelan air minum dalam kemasan (AMDK) yang menggunakan kemasan plastik yang mengandung BPA agar mencantumkan keterangan “Bebas BPA dan turunannya” atau “Lolos batas BPA” atau kata semakna.

Menurut sumber yang mengetahui diadakannya pertemuan itu, diskusi berjalan lancar tanpa adanya sebuah pertanyaan kenapa BPOM tiba-tiba mengubah batas toleransi migrasi BPA yang telah lama mereka anggap aman untuk dikonsumsi masyarakat. Diduga, hampir tidak adanya pendapat yang mempertanyakan wacana BPOM itu dikarenakan BPOM memang sengaja hanya mengundang pihak-pihak yang mendukungnya saja. Hal itu terlihat adanya beberapa pihak yang sebelumnya selalu diundang saat ada pertemuan untuk membahas masalah BPA, namun tidak diundang dalam pertemuan kali ini. Sementara ada pihak yang sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan BPA ini malah diundang hadir dalam pertemuan.

Sebelumnya, desakan soal label peringatan konsumen pada kemasan galon isi ulang yang mengandung BPA ini dilontarkan Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL). Ketua JPKL Roso Daras mendesak BPOM untuk melakukannya. Upaya JPKL tersebut didasari pada hasil penelitian dari berbagai negara maju yang menyatakan bahwa BPA berbahaya bagi bayi, balita, dan janin pada ibu hamil. Selain itu, hasil riset peneliti baik internasional maupun dalam negeri menyimpulkan bahwa BPA dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan tersebut di antaranya adalah berat badan lahir, perkembangan hormonal, perilaku, autisme, kerusakan sel-sel saraf otak secara permanen, dan risiko kanker di kemudian hari.

Untuk menghindari keresahan konsumen atas perlakukan JPKL ini, BPOM mengadakan pertemuan dengan mengundang sejumlah pihak untuk membahasnya. Hasilnya, BPOM mengeluarkan rilis pada 29 Juni 2021 yang dimuat pada situs resminya untuk mengklarifikasi apa yang disampaikan JPKL.  Rilis BPOM itu berbunyi, “Sehubungan dengan adanya isu seputar Bisfenol A (BPA) dalam kemasan galon Polikarbonat (PC) yang berkembang, bersama ini Badan POM memberikan penjelasan sebagai berikut:

  1. Bisfenol A (BPA) adalah senyawa kimia pembentuk plastik jenis Polikarbornat (PC). BPA berbahaya bagi kesehatan apabila terkonsumsi melebihi batas maksimal yang dapat ditoleransi oleh tubuh.
  2. Batas migrasi maksimal BPA adalah sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg) sesuai ketentuan dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.
  3. Badan POM secara rutin melakukan pengawasan pre-market danpost-market terhadap air minum dalam kemasan (AMDK) dan berbagai jenis kemasannya. Pengawasan yang dilakukan meliputi penilaian terhadap sarana produksi, evaluasi terhadap produk, label dan kemasan, konsistensi penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), dan sampling serta pengujian laboratorium.
  4. Hasilsampling dan pengujian laboratorium terhadap kemasan galon AMDK jenis polikarbonat yang dilakukan pada Tahun 2021, menunjukkan adanya migrasi BPA dari kemasan galon sebesar rata-rata 0,033 bpj. Nilai ini jauh di bawah batas maksimal migrasi yang telah ditetapkan Badan POM, yaitu sebesar 0,6 bpj. Selain itu, Badan POM juga melakukan pengujian cemaran BPA dalam produk AMDK. Hasil uji laboratorium (dengan batas deteksi pengujian sebesar 0,01 bpj) menunjukkan cemaran BPA dalam AMDK tidak terdeteksi.
  5. Berdasarkan hasil pengujian baik migrasi maupun cemaran BPA dalam AMDK, serta kajian dari pakar, dapat disimpulkan bahwa penggunaan plastik jenis PC sebagai kemasan galon AMDK masih aman digunakan oleh masyarakat.
  6. Badan POM terus melakukan reviewstandard dan peraturan yang telah ditetapkan bersama dengan pakar di bidang keamanan air dan Kementerian/Lembaga terkait, termasuk standard kemasan AMDK dan label galon. Review dilakukan berdasarkan kajian ilmiah terkini dan perkembangan kondisi di Indonesia sebagai bentuk evaluasi terhadap implementasi dan efektivitas penerapan standard dan peraturan yang telah ditetapkan.
  7. Kemasan pangan yang tidak memenuhi syarat dapat mempengaruhi keamanan pangan. Untuk itu Pemerintah telah mewajibkan industri Kemasan menerapkan peraturan terkait Logo Tara Pangan dan Kode Daur Ulang yang ditetapkan dan diawasi oleh Kementerian Perindustrian sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 24/M-IND/PER/2/2010 tentang Pencantuman Logo Tara Pangan dan Kode Daur Ulang pada Kemasan Pangan dari Plastik.

Masyarakat diharap tetap tenang dengan adanya pemberitaan di media terkait keamanan kemasan galon AMDK berbahan PC. Hasil pengujian terhadap BPA dari penggunaan plastik jenis PC sebagai kemasan galon masih dinyatakan aman. Masyarakat juga diimbau untuk menjadi konsumen cerdas dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang beredar. Selalu lakukan Cek KLIK (Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kadaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan.

Jadi sebuah keanehan, hanya dalam waktu 3 bulan, BPOM membuat lagi wacana baru untuk merevisi lagi apa yang telah mereka tetapkan dalam rilisnya yang disampaikan pada 29 Juni 2021. Di mana, dalam rilis itu BPOM dengan tegas menyampaikan bahwa batas migrasi maksimal BPA adalah sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg) sesuai ketentuan dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Ada apa di balik wacana perubahan ini dan juga wacana pelabelan itu? Padahal yang menginginkannya hanya sebuah LSM yang BPOM  sendiri juga sudah mengakui mereka telah membuat resah masyarakat. (adt/cls)