KANALNEWS.co, Jakarta – PSSI akhirnya membuka pintu kepada pemain berkualitas yang bermain di kompetisi Indonesian Super League (ISL) untuk bisa membela tim nasional (timnas) Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan hasil keputusan dari Kongres Tahunan PSSI yang berlagsung di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu 18 Maret lalu. Selain itu, hal tersebut sebagai salah satu bentuk rekonsiliasi yang tengah mereka lakukan.
“Tim rekonsiliasi sudah bertindak lebih jauh. Keputusan ini sebenarnya hasil kongres tahunan PSSI di Palangkaraya. Maka setelah kongres tahunan kami menyakinkan mengakui liga ISL dengan memanggil pemain-pemain ISL untuk bermain di timnas,” ungkap Penanggung Jawab Timnas, Bernhard Limbong, di kantor PSSI, Jakarta, Selasa (10/4).
Menurut Limbong, pihaknya menginginkan timnas Merah Putih menjadi Macan Asia, sehingga harus dihuni para pemain terbaik bangsa, entah itu dari klub-klub Indonesia Premier League (IPL) ataupun ISL. “Timnas ini harus diawaki putra terbaik bangsa. Jadi mulai besok pelatih di PSSI akan memanggil pemain di klub-klub ISL,” kata Limbong.
Menurut pria yang juga Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI ini, pemanggilan pemain dari kompetisi ISL akan dimulai setelah adanya pelatih timnas senior. Karena hingga kini, siapa pelatih yang dinilai pantas membesut skuad Garuda, masih digodok di rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Meski dikabarkan PSSI tengah membidik pelatih Semen Padang, Nil Maizar.
Ketika ditanya apakah PSSI tidak percaya diri dengan pemain-pemain IPL, sehingga harus memanggil pemain ISL, Limbong juga membantahnya. Menurut jenderal bintang satu di TNI AD ini, semua pemain terbaik bangsa wajib hukumnya memperkuat Merah Putih. “Jangankan di Indonesia, pemain yang merumput di luar negeri saja, kalau dipanggil harus bersedia untuk memperkuat negaranya. Itu hukumnya wajib,” kata Limbong.
Dia menambahkan, agenda pertama yang akan dijalani timnas adalah laga persahabatan internasional menghadapi Palestina pada akhir Mei mendatang. Selain itu, timnas yang akan dibentuknya juga disiapkan untuk melawan Inter Milan pada laga eksehibisi pada tanggal 24 dan 26 Mei. Karena waktunya hampir bersamaan antara pertandingan di Palestina dan laga lawan Inter Milan, nanti akan ada dua tim yang diturunkan. “Untuk yang lawan Palestina, nanti diisi timnas senior. Sedangkan, tim yang lawan Inter Milan, laga pertama adalah IPL Selection. Kemudian, laga kedua oleh Indonesia Selection,” paparnya.
Dirinya membantah kalau pemanggilan pemain dari ISL ini terkait dengan kedatangan Alfred Riedl untuk melatih timnas PSSI versi KPSI (Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI) pimpinan La Nyalla Mattaliti. “Bukan karena ada Riedl datang. Jangan lah beranggapan seperti itu. Dari awal semenjak Kongres kita sudah menetapkan untuk menerima dan mengakui ISL. Kalau mereka (KPSI) bikin timnas tentu kita tidak ikut campur, karena yang jelas saat ini hanya satu PSSI. Dan saya bicara soal PSSI, tidak berbicara mengenai organisasi lain,” ujar Limbong yang dalam kesempatan tersebut didampingi anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang juga koordinator timnas, Bob Hippy.
Mengenai ancaman FIFA yang akan memberikan sanksi kepada PSSI karena memakai pemain ISL, Limbong mengatakan kalau pihaknya akan berkoordinasi dulu dengan tim rekonsiliasi bentukan AFC. Menurut dia, upaya itu tidak mungkin dilarang FIFA lantaran bertujuan membangun timnas yang tangguh.
“Memang ada risiko di sini, tentunya kami berkoordinasi dengan AFC dan FIFA. Apapun kami lakukan. Kami memang sungguh-sunguh mengakui ISL. Pada prinsipnya mereka ada di klub di bawah naungan PSSI. Semangat kebersamaan itu yang menginginkan PSSI bersatu. Ini adalah amanat dari Kongres Tahunan PSSI yang disetujui FIFA,” ujar pria yang juga menjadi Ketua tim rekonsiliasi ini. Ranoe Nirawan






































