KANALNEWS.co, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menegaskan sosialisasi sangat penting untuk menghindarkan atlet dari praktik penggunaan zat peningkat kemampuan atau doping yang menimpa 14 atlet PON/Peparnas 2016.

“Harus ada sosialisasi bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga agar mereka mengetahui zat atau obat yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi,” ujar Imam usai Rapat Koordinasi dan Konsolidasi bersama KOI, KONI, Satlak Prima, LADI, BSANK, BOPI, INASGOC, Ketua Olympic Center di Gedung Kemenpora, Jakarta, Senin (9/1/2017).

rakor menpora dan stake holder olahraga

“Terkadang ada beberapa kasus di mana seorang atlet menelan obat tertentu karena sakit. Namun ternyata, setelah diperiksa, obat yang dikonsumsi itu mengandung zat yang dilarang,” lanjut Menpora.

Imam juga mengingatkan, selain obat, makanan dan minuman yang masuk ke perut atlet juga tidak luput dari potensi kandungan zat doping karena itu pentingnya kehati-hatian para pembina olahraga untuk selalu berkoordinasi dengan Lembaga Anti Doping Indonesia.

“Ini yang membuat sosialisasi doping penting dan dalam pelaksanaannya harus berkoordinasi dengan LADI,” katanya.

Namun minimnya sosialisasi yang dilakukan LADI cukup membuat geram orang nomor satu di Kementerian yang membidangi Olahraga dan Pemuda di Indonesia. Alasan LADI yang minim anggaran menurut Menpora bukanlah alasan untuk mencegah atlet menggunakan doping.

“Kami berencana merombak organisasi LADI agar berjalan lebih efektif. Segera kami bereskan,” tegas Menpora Imam Nahrawi.

Sebelumnya Ahmad Heryawan selaku Ketua Umum Pengurus Besar Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV Tahun 2016 Jawa Barat mengumumkan sebanyak 12 atlet PON dan dua atlet Peparnas positif menggunakan doping setelah dilakukan pemeriksaan urine di National Dope Testing Laboratory, India. Para atlet tersebut merupakan peraih medali emas, perak dan pemecah rekor nasional.

Dua belas atlet PON yang positif doping itu berasal dari cabang olahraga binaraga (delapan atlet), berkuda (satu atlet), angkat berat (satu atlet) dan menembak (dua atlet), sementara atlet Peparnas positif doping berasal dari cabang olahraga atletik dan tenis meja.

Terkait itu, menurut Menpora, nantinya ke-14 atlet ini dihadapkan pada Dewan Disiplin terkait doping yang segera dibentuk oleh Kemenpora. Dalam pertemuan itu, atlet positif doping juga akan didengarkan pembelaannya. Salah satu hukuman terberat bagi atlet positif doping adalah dinonaktifkan dari kegiatan olahraga selama rentang tahun tertentu. (Herwan)