KANALNEWS.co, Jakarta – Akademisi dari Universitas Gadjah Mada Arie Sudjito memprediksi perpecahan di tubuh Partai Golkar memungkinkan munculnya partai sempalan baru, sebagai konsekuensi dari ketidakpuasan faksi yang ada.
“Misalya akan terbentuk partai baru, saya kira itu konsekuensi logis dari demokrasi,” katanya di Yogyakarta, Kamis (4/12/02014).
Arie menambahkan, hingga saat ini Munas Golkar telah terbukti empat kali memunculkan partai sempalan baru, yakni Partai Hanura, Partai Gerindra, Partai NasDem, serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan dengan perpecahan itu yang dirugikan bukan hanya kelompok di dalam partai ini, melainkan seluruh komponen partai secara organisasi akan terus menerus mangalami kerugian luar biasa.
“Partai Golkar sebagai partai yang telah memiliki banyak pengalaman, seharusnya mampu mengelola konflik yang dimunculkan dari faksi-faksi yang ada,” ujarnya.
Selain itu, dengan perpecahan yang berkesinambungan, partai ini akan terus-menerus mengalami pengurangan figur.
“Saya kira akan terjadi defisit organisasi yang juga mengakibatkan defisit figur,” katanya.
Ia menyatakan, apabila fenomena itu terus menerus terjadi, telah terjadi kesalahan dalam pembentukan partai politik di Indonesia sejak awal. Alasannya, partai tidak lagi terbentuk dari inisiatif rakyat, melainkan pecahan dari elit partai, yang akhirnya membentuk struktur ke bawah.
“Pascareformasi, partai tidak lagi murni dari inisiatif rakyat,” kata dia.
Senada dengan pendapat Arie Sudjito, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor memperkirakan yang mungkin terjadi adalah pola lama yang sudah terjadi di Partai Golkar sebelumnya, yaitu munculnya sempalan-sempalan untuk mendirikan partai baru.
Partai Hanura, Partai NasDem, dan Partai Gerindra adalah contoh partai politik yang didirikan mantan kader partai beringin itu.
Munculnya sempalan-sempalan, menurut Firman sebenarnya bisa diantisipasi apabila ada upaya dari senior-senior Partai Golkar untuk mendamaikan, dan meyakinkan pihak-pihak yang berkonflik agar tetap berada di satu “kapal”.
“Namun, upaya mendamaikan tampaknya tidak mudah dilakukan. Itu karena perbedaan usia dan jam terbang tokoh-tokoh yang berkonflik tidak jauh. Mungkin kalau yang berkonflik antara junior dengan figur yang sangat senior, akan lebih mudah ditengahi,” katanya. (Herwan)







































