
Kanalnews.co, JAKARTA – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kembali menegaskan jika pemerintah akan mulai menekan impor energi. Targetnya, etanol 20% dalam bensin (E20) wajib terealisasi pada 2028.
Langkah ini digadang-gadang jadi jurus pamungkas untuk memangkas ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor yang selama ini menguras devisa. Pasalnya, sampai saat ini bensin nasional tembus 39-40 juta kiloliter per tahun, dan setengahnya, alias sekitar 20 juta kiloliter, masih bergantung dari luar negeri.
Menurut Bahlil, Indonesia sebenarnya punya senjata tersembunyi yang melimpah seperti singkong, jagung, hingga tebu yang bisa diolah jadi etanol. Ia berkaca dari Brasil, negara yang sudah lebih dulu sukses menjalankan kebijakan serupa.
“Kalau kita pakai E20, impor bensin bisa dipangkas sampai 8 juta kiloliter,” tegasnya.
Lewat kebijakan biodiesel berbasis sawit yang kini mencapai campuran 40% (dan segera naik ke 50%), Indonesia disebut-sebut berhasil lepas dari impor solar.
Namun, tantangan belum selesai. Di sektor gas rumah tangga, Indonesia masih mengandalkan impor LPG yang mencapai 7,47 juta ton per tahun. Produksi dalam negeri hanya mampu menutup sebagian kecil kebutuhan, sementara subsidi LPG terus membengkak hingga Rp 80-87 triliun per tahun.
Sebagai solusi, pemerintah mulai melirik CNG (Compressed Natural Gas), gas padat dalam tabung yang diklaim 30-40% lebih murah dari LPG. Uji coba sudah dilakukan di restoran hingga dapur program makan gratis, dan kini disiapkan untuk masuk ke rumah tangga.
Di saat bersamaan, pemerintah mulai mengamankan pasokan impor minyah dari Afrika, Amerika, hingga Rusia. Setelah selama ini bergantung pada Timur Tengah dan jalur Selat Hormuz.
Bahlil pun menegaskan, langkah Presiden dalam berburu pasokan energi ke luar negeri bukan sekadar kunjungan biasa.
“Itu bukan jalan-jalan. Kita kerja, memikirkan nasib 280 juta rakyat Indonesia,” ujarnya. (ads)


































