IG

Kanalnews.co, JAKARTA– Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras kasus lembaran Al Qurban yang dipakai untuk membungkus petan. MUI menilai hal itu sebagai bentuk penghinaan dan meminta Kepolisian mengusut tuntas.

“Terkait dengan adanya petasan yang bungkusnya dari lembaran Al-Quran tentu ini sangat disayangkan, dan ini adalah bentuk dari penghinaan. Artinya mushaf Al-Quran meskipun sudah tak terpakai kemudian dipakai untuk bungkus petasan,” Wasekjen MUI M Ziyad kepada wartawan.

Menurut Ziyad ada beberapa adab jika melihat atau memperlakukan Al Qurban yang lembarannya sudah lusuh. Salah satunya dengan dikubur atau dibakar.

“Maka pertama mestinya kita lihat apa sih sesungguhnya mushaf Al-Quran itu. Para ulama 4 mazhab menyatakan bahwa definisi mushaf yang dimaksud meliputi segala bagian yang terdapat tulisan ayat Al-Quran pada cetakan mushaf tersebut. Karena itulah ada beberapa perlakuan terkait dengan mushaf. Ada adabnya,” jelasnya.

“Di kalangan para ulama ada beberapa pendapat, yang pertama misalnya dari beberapa ulama saya secara global saja, dari 4 mazhab dari ada dua pandangan, yang pertama memperlakukan mushaf Al-Quran misalnya kertasnya udah lusuh dan usang tetapi tulisannya masih terbaca maka langkah yang pertama supaya tidak dibuang sembarang tempat dan supaya tidak terinjak orang maka dikubur, jadi kita gali kemudian kita kubur, itu pun tidak boleh di jalan yang dilalui orang, atau di tempat-tempat yang misalkan pembuangan sampah atau tempat tercemar, karena Al-Quran itu adalah mulia,” kata dia.

“Yang kedua adalah dengan cara dibakar, maksudnya dibakar dengan makna yang sudah sangat lapuk tadi, supaya menghindari kalau misalkan dirobek-robek itu masih ada tulisannya, kemudian akan terinjak orang, jadi membakar jangan dipahami untuk merendahkan, bukan, menghindarkan agar tidak terinjak orang. Tapi pandangan yang umum adalah kubur supaya tidak terinjak orang lain,” katanya.

Terkait kasus lembaran Al Qurban untuk membungkus petasan tersebut, Ziyad berharap segera ditindak tegas. Ia menduga ada ketidaktahu pengetahuan dari orang yang memakai lembar Al Quran tersebut.

“Kalau ada orang yang menggunakan secara sengaja, maka itu adalah tindakan yang tidak dibolehkan karena dianggap sebagai bentuk perendahan terhadap Al-Quran itu sendiri. Tetapi kan kita tidak tahu apa motifnya orang pembuat petasan ini,” tuturnya.

“Saya menduga ini lebih pada nilai edukatif, tak terdidik. Tidak memiliki pengetahuan, tidak memiliki wawasan terkait bagaimana adab dan memperlakukan kemuliaan Al-Quran. Sehingga orang yang membuat petasan itu asal ketemu kertas saja. Lah ini yang berbahaya menemukan kerja Al-Quran kalau orang tidak mengetahui pendidikan,” kata dia.

Namun demikian, Ziyad meminta masyarakat menahan diri dan tak terprovokasi. Ia yakin Polisi akan menyelidiki kasus tersebut.

“Tentu dalam hal ini saya kira kita semua harus menahan diri, jangan kemudian menghakimi atau mencari orang tadi. Biar kan ini oleh aparat diusut, ini apa motifnya. Apa karena ketidaktahuan atau secara sengaja, kalau sengaja jelas ini adalah bentuk ketidakadaban terhadap kita suci kendati itu pun sudah lusuh,” katanya. (ads)