Kanalnews.co, SURABAYA – Hamparan sawah dan hasil panen menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita Jawa Timur sebagai salah satu penopang pangan nasional. Di balik angka produksi yang mencapai jutaan ton, ada kerja panjang para petani yang setiap hari menjaga lahan tetap produktif.

Pada momentum Hari Tani Nasional 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi kepada seluruh petani di Jawa Timur yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat perdesaan.

Bagi Khofifah, petani bukan sekadar produsen pangan. Mereka juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berdialog bersama petani dalam kegiatan panen raya padi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

“Selamat Hari Tani Nasional Tahun 2026 kepada seluruh petani, khususnya para petani di Jawa Timur. Terima kasih atas kerja keras, ketekunan, dan pengabdian panjenengan semua. Dari tangan para petani, pangan tersedia, ekonomi desa bergerak, dan ketahanan bangsa terus terjaga,” ujar Khofifah, Kamis (24/9/2026).

Ia mengatakan, Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk melihat kembali besarnya kontribusi petani sekaligus memperkuat komitmen membangun sektor pertanian yang semakin maju, mandiri, modern dan berkelanjutan.

“Petani tidak hanya menanam benih di lahan pertanian. Para petani juga menanam harapan, menjaga kehidupan, dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi,” ungkapnya.

Produksi Padi Jatim Terus Tumbuh

Besarnya kontribusi petani Jawa Timur tercermin dari capaian produksi padi. Berdasarkan Angka Tetap BPS Jawa Timur yang dirilis 2 Februari 2026, luas panen padi Jatim sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare dengan produksi 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka itu meningkat 12,60 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 9,27 juta ton GKG. Produksi tersebut setara sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk.

Kinerja tersebut berlanjut pada 2026. Berdasarkan potensi produksi Januari hingga Oktober 2026, produksi padi Jawa Timur diperkirakan mencapai 9,86 juta ton GKG atau tumbuh 5,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Angka tersebut setara sekitar 5,69 juta ton beras.

Khofifah menyebut, pada periode Januari–Oktober 2026 luas panen padi Jawa Timur mencapai sekitar 1,74 juta hektare. Luasan tersebut meningkat 4,58 persen atau bertambah sekitar 76,19 ribu hektare dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 1,66 juta hektare.

Produksi padi pada periode yang sama mencapai 9,86 juta ton GKG. Angka tersebut naik sekitar 480,77 ribu ton atau 5,13 persen dibandingkan periode Januari–Oktober 2025 yang berada di kisaran 9,38 juta ton GKG.

Sementara itu, produksi beras pada Januari–Oktober 2026 diperkirakan mencapai 5,69 juta ton, meningkat sekitar 277,61 ribu ton atau 5,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 5,41 juta ton.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama jajaran menunjukkan hasil panen padi dalam kegiatan pertanian di Jawa Timur.

Capaian tersebut memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu daerah utama penyangga pangan nasional. Khofifah menyebut, Jawa Timur konsisten menjadi daerah dengan produksi padi dan beras tertinggi secara nasional sejak 2020 hingga semester pertama 2026. Pernyataan tersebut juga disampaikan Khofifah dalam paparan mengenai potensi pangan Jatim pada September 2026.

“Alhamdulillah, sejak 2020 hingga Semester I 2026, Jawa Timur konsisten menjadi produsen padi dan beras tertinggi secara nasional. Capaian ini merupakan buah dari kerja keras para petani, penyuluh, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian,” katanya.

Menurut Khofifah, capaian produksi tersebut sekaligus membawa tanggung jawab besar. Jawa Timur tidak hanya harus menjaga produktivitas pertanian, tetapi juga memastikan sektor tersebut memberikan manfaat yang semakin besar bagi para petani.

“Jawa Timur tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Karena itu, posisi sebagai lumbung pangan Indonesia harus terus kita jaga dan perkuat,” tegasnya.

Bukan Sekadar Mengejar Angka Produksi

Bagi Pemprov Jatim, tingginya produksi tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan pertanian.

Di balik angka jutaan ton tersebut, kesejahteraan petani menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting. Karena itu, penguatan sektor pertanian terus diarahkan dari hulu hingga hilir.

Mulai dari akses terhadap benih dan pupuk, perbaikan irigasi, penggunaan alat dan mesin pertanian, pembiayaan, hingga pemasaran dan hilirisasi produk terus didorong agar petani mendapatkan nilai tambah dari hasil produksinya.

“Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani,” jelas Khofifah.

Penguatan kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan hingga komunitas pertanian terus dibangun.

Pertanian Jatim Didorong Makin Modern

Tantangan pertanian ke depan juga tidak semakin sederhana. Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya dan kebutuhan meningkatkan produktivitas membuat sektor pertanian perlu beradaptasi.

Khofifah mendorong pemanfaatan teknologi, mekanisasi, digitalisasi pemasaran, efisiensi penggunaan air serta pola budidaya yang lebih ramah lingkungan agar semakin luas diterapkan di sentra-sentra pertanian Jawa Timur.

“Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah diwariskan para pendahulu,” tuturnya.

Modernisasi juga dinilai penting agar pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor yang identik dengan cara-cara konvensional.

Sektor ini kini berkembang menjadi ruang bagi teknologi, kewirausahaan, pengolahan hasil pertanian, pemasaran digital hingga industri berbasis pangan.

Anak Muda dan Masa Depan Pertanian

Di tengah perkembangan tersebut, regenerasi petani menjadi perhatian tersendiri.

Khofifah mengajak generasi muda untuk tidak ragu masuk ke sektor pertanian. Menurutnya, keberlanjutan pangan pada masa mendatang sangat bergantung pada munculnya generasi baru yang mampu menggabungkan pengalaman pertanian dengan inovasi dan teknologi.

“Masa depan pangan berada di tangan generasi muda. Mari kita bangun pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian,” ajaknya.

Pada Hari Tani Nasional 2026, Khofifah kembali menyampaikan penghargaan kepada para petani pangan, hortikultura dan perkebunan di Jawa Timur.

Ia berharap produktivitas yang terus tumbuh dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani.

“Terima kasih kepada seluruh petani Jawa Timur yang tidak pernah lelah merawat tanah, menanam, dan menghasilkan pangan bagi masyarakat. Semoga seluruh ikhtiar dan kerja keras para petani senantiasa diberikan kelancaran, keberkahan, serta hasil panen yang melimpah,” ucapnya.

Khofifah pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus menjaga Jawa Timur sebagai salah satu penopang utama pangan nasional.

“Mari terus bergandengan tangan menjaga Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional sekaligus memastikan petaninya semakin maju, mandiri, dan sejahtera,” pungkasnya.