
Kanalnews.co, JAKARTA – Ancaman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebar hingga Jakarta menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak sampai panik menghadapi kondisi udara saat ini.
Peringatan tersebut muncul setelah data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di kawasan Kemayoran, Jakarta, mencapai 72,2 mikrogram per meter kubik pada Sabtu (17/10) pukul 10.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Rano mengatakan Pemprov DKI memiliki sejumlah langkah untuk membantu mengendalikan polusi udara, termasuk menggunakan teknologi water mist atau penyemprotan air. Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut bukan satu-satunya cara untuk menghadapi persoalan kualitas udara.
“Yang pasti, kita enggak boleh panik. Ini situasi memang alam sedang seperti ini,” kata Rano dalam konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (17/10).
Menurut dia, penyemprotan air dapat menjadi salah satu upaya pengendalian polusi di sejumlah wilayah. Meski demikian, masyarakat juga perlu melakukan langkah pencegahan secara mandiri untuk mengurangi risiko paparan polutan.
“Water spray, itu salah satu juga, bukan satu-satunya. Salah satunya untuk mengendalikan (kabut asap) di beberapa wilayah,” ujarnya.
Rano secara khusus mengingatkan warga agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan di tengah persoalan kualitas udara tersebut. Ia meminta masyarakat menggunakan masker sebagai langkah antisipasi, terlebih ketika beraktivitas di luar ruangan.
Ia juga menceritakan pengalamannya yang sempat mengalami flu. Setelah menjalani tes usap atau swab, hasil pemeriksaannya dinyatakan negatif.
“Saya minta maaf, izin kemarin saya kena flu. Tapi alhamdulillah, saya swab, hasilnya negatif. Artinya saya cuma flu kelelahan saja. Ini harus kita beritahu kepada masyarakat,” katanya.
Sementara itu, BMKG mengungkapkan bahwa asap karhutla telah terdeteksi menyebar ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejak Jumat (16/10). Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyebut asap tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Meski sebaran asap terpantau melalui pemantauan atmosfer, BMKG masih menganalisis pergerakannya untuk memastikan apakah asap tersebut turut meningkatkan konsentrasi polutan di permukaan atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas.
Guswanto menegaskan bahwa dampak asap terhadap kesehatan tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan citra satelit. Pengukuran kualitas udara, terutama konsentrasi PM2.5, menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat paparan polutan yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Sebagai langkah pencegahan, BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga yang harus beraktivitas di luar disarankan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti KN95, KF94, atau N95.
PM2.5 merupakan partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat terhirup hingga ke saluran pernapasan bagian dalam. Konsentrasi partikel ini diukur dalam satuan mikrogram per meter kubik menggunakan metode pemantauan tertentu, termasuk Beta Attenuation Monitoring. (pht)





































