Kanalnews.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (5/6) pagi. Pelemahan ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan, meski pemerintah menegaskan kondisi fiskal nasional tetap berada di jalur yang sehat.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah sempat menyentuh posisi Rp18.001 per dolar AS atau melemah 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.966 per dolar AS. Dalam 24 jam terakhir, mata uang Garuda bahkan tercatat sempat terperosok hingga Rp18.013 per dolar AS.
Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung menepis anggapan pelemahan rupiah dipicu kebijakan fiskal pemerintah yang dianggap tidak terkendali.
“Banyak yang bilang rupiah melemah gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu,” tegas Purbaya saat berada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia justru menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya. Salah satu indikatornya adalah penerimaan pajak yang terus bertumbuh sebagai hasil dari reformasi perpajakan yang mulai menunjukkan dampak positif terhadap kas negara.
Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak global yang saat ini menekan berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, para analis menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor eksternal. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan pasar sedang dibayangi kekhawatiran meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
Ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian utama investor. Situasi tersebut mendorong pelaku pasar memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang. (pht)




































