Kanalnews.co, DEPOK – Di era di mana teknologi mendominasi hampir seluruh lini kehidupan, media sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru yang sangat krusial. Namun, di balik kemudahan konektivitas yang ditawarkan, dunia maya juga menyimpan tantangan besar berupa penyebaran hoaks, cyberbullying, hingga kerentanan kesehatan mental.
Merespons fenomena tersebut, LSM Ruang Damai sukses menyelenggarakan webinar Bincang Damai bertajuk “Think Before You Click: Bijak Menggunakan Sosial Media” pada Senin (25/5).
Kegiatan yang berlangsung secara virtual melalui Zoom Meeting ini diikuti dengan antusias oleh 93 peserta. Hadir dalam forum tersebut berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis mahasiswa, remaja, tokoh masyarakat, hingga perwakilan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI), lembaga negara, serta organisasi masyarakat sipil lainnya.

Dalam sambutan pembukanya, Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, menyampaikan apresiasi kepada tim Literasi Damai yang telah menginisiasi webinar ini. Ia menekankan bahwa masyarakat saat ini hidup di dua dunia yaitu dunia nyata tempat memijak bumi, dan dunia digital di dalam genggaman tangan.
“Media sosial menyimpan tantangan yang besar. Satu klik dari jempol kita memiliki kekuatan luar biasa. Jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan, ia bisa menjadi ladang inspirasi, edukasi, dan perdamaian. Sebaliknya, jika digunakan tanpa ruang berpikir yang jernih, satu klik itu bisa menyebarkan hoaks, memicu perpecahan, bahkan melukai hati sesama,” ujar Zainal.
Dia menambahkan, program Bincang Damai ini merupakan bentuk komitmen Ruang Damai dalam merawat perdamaian yang tidak hanya terbatas pada dialog fisik, tetapi juga di ruang siber. Lebih lanjut, Zainal mengajak para peserta untuk senantiasa mengambil jeda sebelum membagikan informasi demi menumbuhkan kesadaran kolektif.
Ia menekankan pentingnya mengembangkan kebiasaan kritis dalam memverifikasi kebenaran informasi guna memutus rantai hoaks. Selain itu, ia mengingatkan interaksi di dunia maya sejatinya melibatkan manusia nyata, sehingga menjaga sopan santun dan etika tetap menjadi hal yang mutlak.
Menurutnya, penggunaan media sosial yang sehat tidak akan pernah terjadi secara kebetulan, melainkan harus dibangun secara sadar dan bersama-sama.
“Teknologi memberikan kita kebebasan untuk berekspresi, namun kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Melalui inisiatif ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi netizen cerdas yang tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekosistem digital,” jelas Zainal.
Ia berharap lewat momentum ini, para peserta bisa mendapatkan perspektif baru untuk bertransformasi menjadi agen perdamaian digital (digital peacebuilders).
“Mari kita jadikan akun media sosial kita sebagai etalase kebaikan, menumbuhkan toleransi, dan meningkatkan literasi digital. Menjadi bijak bukan berarti takut bersuara, melainkan tahu kapan waktunya berbicara dan kapan waktunya menahan diri. Mulai hari ini, mari berkomitmen: Amankan jempolmu, damaikan ruang digitalmu,” tegasnya.
Guna mengupas tuntas tantangan di ruang siber, Bincang Damai juga menghadirkan dua narasumber ahli. Pemateri pertama, Irnasya Shafira Hadi, seorang Kriminolog, membedah fenomena kejahatan digital yang kian marak, seperti cyberbullying, grooming, hingga pelecehan seksual berbasis online.
“Setiap orang memiliki potensi menjadi korban maupun pelaku kekerasan di ruang digital apabila tidak memiliki kesadaran dalam bermedia sosial. Cyberbullying bukan sekadar candaan yang bisa dianggap sepele,” jelas Irnasya.
Pemateri kedua dalam acaraini, Yogi Aris Budiman selaku Koordinator Yayasan Aliansi Remaja, menyoroti dampak media sosial dari kacamata psikologis anak muda. Menurut Yogi, media sosial bisa digunakan untuk memperluas relasi, namun di sisi lain memicu tekanan sosial akibat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain demi mencari validasi eksternal.

“Ketika koneksi berubah menjadi tekanan, seseorang akan lebih mudah mengalami gangguan emosional. Karena itu, penting bagi setiap individu memiliki self-awareness (kesadaran diri) saat menggunakan media sosial,” ungkap Yogi.
Ia menambahkan, kesadaran diri ini dapat dibangun dengan memahami tujuan saat online, mengelola emosi, menjaga privasi, serta membatasi aktivitas digital yang berlebihan.
Melalui edukasi yang komprehensif ini, Ruang Damai berharap generasi muda dan seluruh elemen masyarakat mampu berkontribusi aktif dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, sehat, kritis, dan senantiasa berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.



































