Foto Antara

 

Kanalnews.co, JAKARTA – Pelatih Timnas Indonesia John Herdman tidak hanya mengincar kemenangan saat menghadapi Oman dalam laga FIFA Matchday. Tapi, ia bertekad membawa Garuda menghapus catatan buruk yang telah membayangi selama hampir empat dekade.

Sejak 1988, Indonesia belum pernah mampu menaklukkan Oman. Rekor itulah yang kini ingin dipatahkan Herdman bersama skuad Merah Putih.

Baginya, pertandingan ini merupakan kesempatan emas untuk menunjukkan Timnas Indonesia telah berkembang dan siap bersaing dengan tim-tim kuat Asia.

Herdman menegaskan para pemain memahami besarnya tanggung jawab yang mereka emban. Ia ingin laga melawan Oman menjadi titik awal lahirnya mental juara yang selama ini terus dibangun di tubuh Timnas Indonesia.

“Hal pertama adalah menerima tanggung jawab untuk menulis ulang sejarah. Saya pikir itu adalah sesuatu yang akan dihadapi kelompok pria ini dan mereka mengambil tanggung jawab untuk itu,” kata Herdman.

Menurut pelatih asal Inggris tersebut, duel melawan Oman bukan sekadar agenda internasional biasa. Ia melihat pertandingan ini sebagai ujian nyata untuk mengukur sejauh mana perkembangan Garuda di level Asia.

“Ini bukan sekadar pertandingan persahabatan, ini adalah kesempatan untuk menetapkan diri kami sebagai pesaing di AFC,” tegasnya.

Meski datang dengan ambisi besar, Herdman menyadari timnya menghadapi tantangan yang tidak mudah. Waktu persiapan yang singkat membuat staf pelatih harus bekerja ekstra untuk menyatukan para pemain yang baru bergabung dari berbagai kompetisi di Eropa dan Asia.

Di sisi lain, Oman tiba di Jakarta dengan modal yang lebih meyakinkan. Mereka telah menjalani pemusatan latihan selama tiga pekan penuh dan datang dengan organisasi permainan yang lebih matang.

Namun situasi itu tidak membuat Herdman gentar. Ia justru menjadikan laga ini sebagai momentum untuk melihat karakter asli timnya saat menghadapi lawan yang memiliki persiapan lebih baik.

Herdman juga mengungkap sejumlah evaluasi dari pertandingan sebelumnya. Ia menilai Indonesia masih perlu meningkatkan efektivitas serangan, terutama dalam menciptakan peluang berbahaya dan memaksimalkan penguasaan bola menjadi ancaman nyata di depan gawang lawan.

“Kami tidak memiliki cukup tembakan tepat sasaran mengingat seberapa besar kontrol yang kami miliki, kami tidak memiliki cukup orang di dalam kotak penalti, tidak cukup penetrasi di sepertiga akhir lapangan. Tapi anak-anak telah merangkul hal itu minggu ini,” ujarnya. (pht)