KANALNEWS.CO., KUDUS – Para pelatih bulu tangkis yang mengantar anak didiknya mengikuti audisi beasiswa Djarum berharap ada penghargaan buat jerih payah melatih calon pemain.
Hal ini diungkap oleh Dwi Nur Septianto atau Anto, pelatih asal Lumajang yang mengantar dua muridnya asal Meulaboh, Aceh Nanggroe Darussalam mengikuti audisi umum bulu tangkis yang diadakan PB Djarum di Kudus, Rabu (20/11/2019). Menurut Anto yang pernah menghasilkan pemain nasional Alvent Yulianto, perlu waktu dan jerih payah lama untuk menghasilkan bibit pemain yang baik.
Ia menunjuk contohnya anak didiknya, Yuga Gustisyah. Untuk mengikuti Audisi Umum Beasiswa Bulu tangkis di Jawa, Anto harus meninggalkan Lumajang dan mendampingi anak didiknya tersebut di Meulaboh selama dua bulan. Kemudian ia membawa Yuga ke rumahnya di Lumajang agar lebih dekat dengan lokasi audisi di Surabaya dan Kudus.
“Karena menangani Yuga di luar kota saya harus meninggalkan klub saya, PB Cahaya di Lumajang. Tentunya ini berpengaruh terhadap pemasukan klub,” kata Anto. “Perhatian yang kami harap tersebut bukan sesuatu yang besar, tetapi bisa saja berupa bantuan kok atau fasilitas lapangan seperti net atau lampu.”
Anto mengaku mendapat gaji sebesar Rp. 2.5 juta per bulan dari ayah Yuga, Yushansyah nyang merupakan Kepala Bagian Umum Rumah Sakit di Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam. “Saya memang menjadikan pelatih bulu tangkis sebagai profesi. Saya bertemu ayah Yuga saat tengah dikontrak Riau dan diajak ke klub bulutangkis PB Teuku Umar, Meulaboh,” katanya.
Yushansyah mengaku memang berambisi menjadikan olahraga sebagai pilihan anaknya. Meski alasan yang diajukannya sangat klasik, mengikuti kemauan anaknya. “Saya mendidik empat anak saya untuk mencintai dan menekuni sejak kecil. Namun seperti kakaknya yang menekuni tenis, setelah SMP dia memilih sekolah,” katanya.
Untuk Yuga batas itu ada pada audisi umum Djarum beasiswa bulu tangkis. Ia sangat ingin bergabung dengan PB Djarum Kudus, apalagi kakaknya, Nazura Trisa telah lebih dulu lolos audisi pada 2017. “Saya dukung sepenuhnya dengan materi karena biaya mengikuti pelatihan dan pertandingan di Pulau Jawa tidak murah. Sekali jalan lewat darat dari Meulaboh hingga Semarang untuk dua orang bisa mencapai Rp 20 juta,” kata Yushansyah.
Bagi Yushansyah yang juga memiliki bisnis wall paper di Meulaboh, biaya masih bisa diusahakannya. “Bagi saya yang penting anak saya menjadi orang yang berani menentukan pilihannya, tetapi tahu batas kemampuan. Jadi kalau ia gagal lagi dalam audisi kali ini, saya minta ia melupakan impiannya menjadi pemain bulu tangkis dan konsentrasi pada pendidikan.”




































