Jakarta, KanalNews.co – Semua kemasan pangan plastik yang mengandung Bisfenol A (BPA) yang sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak perlu lagi mencantumkan label peringatan kepada konsumen di kemasannya. Hal itu dikarenakan semua kemasan plastik produk pangan yang sudah terdaftar di BPOM tersebut sudah diuji keamanannya di laboratorium. Secara berkala, produk-produk yang ada di pasaran juga dilakukan uji laboratorium untuk dianalisa lagi apakah masih aman digunakan atau tidak.

“Jadi tidak perlu lagi dibuat label peringatan di kemasannya, karena itu memang sudah persyaratannya waktu registrasi, dan sebelum beredar sudah diawasi juga dengan ketat oleh lembaga yang berkompeten, yaitu BPOM,” ujar mantan Plt Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Tetty H. Sihombing yang sekarang tengah membantu di Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Jumat (16/7).

Dia mengatakan dalam Peraturan di BPOM, batas-batas migrasi BPA itu dinyatakan berbahaya atau tidak sudah ada. “Batas-batas BPA tidak boleh mencemari makanan  itu ada batas-batasnya, dan itu sudah diuji secara rutin, baik di makanan dan minuman. Jika sudah melebihi,standar yang ditentukan, berarti itu sudah tidak aman untuk dipakai industri kemasan dan kemasan itu tidak mungkin diijinkan untuk beredar di pasaran,” ucapnya.

Khusus untuk botol-botol bayi, dia mengatakan, itu berada di ranah Kementerian Perindustrian dan persyaratan yang diijinkan beredar juga sangat ketat. Misalnya, tidak boleh mengandung BPA. “Berarti, semua botol-botol bayi dan dot bayi yang beredar di pasaran dan sudah terdaftar di Kementerian Perindustrian itu sudah diuji keamanannya. Kalau itu sudah diatur demikian, Kementerian Perindustrian juga akan menjaganya supaya dalam produk tersebut tidak boleh ada BPA,” tukas Tetty.

Soal label peringatan kemasan plastik berbahan BPA ini, Tetty menganalogikannya seperti formalin yang juga dilarang digunakan untuk makanan. “Masak iya kita harus tulis ini tidak mengandung formalin. Itu kan nggak cocok ya. Justru yang harus dijaga itu adalah, jangan sampai ada barang yang berbahaya itu masuk ke dalam makanan atau minuman. Jadi, perlu adanya pengawasan yang ketat, itu yang penting,” ucapnya.

Menurut  dia, kalau semua bahan kemasan plastik berbahan BPA itu dilabeli peringatan, itu akan membuat susah bagi industri-industri kecil yang harus menambah biaya mereka untuk itu. “Itu kan perlu biaya lagi, kan kasihan juga mereka itu. Jadi, saya melihat tidak efektif cara yang seperti itu,” ujarnya.

Menurut Tetty, dengan teregistrasi di BPOM, semua kemasan palstik pangan itu sudah cukup aman. “Kalau nanti dalam perjalananannya industrinya tidak me-maintain atau menjaga persyaratan dari BPOM atau kurang melakukan monitoring, itu kan bisa ketangkap nanti pada waktu BPOM ambil sampel di lapangan. Kan rutin itu dilakukan, nanti akan ketahuan di sana,” tuturnya.

Karenanya, dia menyarankan agar masyarakat yakin terhadap BPOM sebagai lembaga yang berwenang untuk mengawasi kenaman pangan di Indonesia. BPOM sudah melakukan screening saat registrasi. “Yang tidak cocok ya tidak lolos dan tidak mendapatkan ijin,” katanya.

Tetty juga meminta masyarakat untuk membantu mengawasi semua produk-produk pangan yang ada di pasaran. “Konsumen perlu meneliti produk-produk yang dibeli, apakah sudah terdaftar di BPOM atau tidak,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Anggota Komisi IX Arzeti Bilbina dari Partai Kebangkitan Bangsa Dapil Jawa Timur I berharap BPOM bisa memfasilitasi dan mengedukasi soal bahaya kemasan plastik yang mengandung BPA ke masyarakat luas.

“Saya berharap BPOM segera memfasilitasi info sehat untuk masyarakat agar lebih cerdas lagi dalam memilih makanan dan minuman dalam kemasan plastik untuk menginfokan pelabelan dalam kemasan plastik yang mengandung zat berbahaya BPA,” katanya.

Arzeti Bilbina sendiri mendukung dengan tegas terhadap BPOM untuk segera memberikan label peringatan konsumen terkait kemasan plastik yang mengandung bahaya BPA. Dia percaya dengan pelabelan tersebut bisa memberikan dampak positif ke masyarakat yang punya bayi dan balita.
Dalam pernyataan resminya baru-baru ini, BPOM mengatakan telah melakukan pengujian laboratorium terhadap kemasan galon AMDK jenis polikarbonat pada tahun 2021 ini. Hasil uji terhadap sampling  menunjukkan bahwa migrasi BPA dari kemasan galon sebesar rata-rata 0,033 bpj. Nilai ini jauh di bawah batas maksimal migrasi yang telah ditetapkan BPOM sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg).

BPOM juga melakukan pengujian cemaran BPA dalam produk AMDK. Hasil uji laboratorium (dengan batas deteksi pengujian sebesar 0,01 bpj) menunjukkan cemaran BPA dalam AMDK tidak terdeteksi. (cls)