KANALNEWS.co, Ankara – Duta Besar Rusia untuk Turki di Ankara pada Senin (19/12) tewa di tembak mati oleh oknum polisi Turki, ironisnya peritiwa ini terjadi menjelang pertemuan penting antara menteri luar negeri Rusia, Turki dan Iran di Moskow untuk membahas konflik Suriah. Sontak peristiwa ini membuat Presiden Vladimir Putin berjanji meningkatkan upaya melawan “terorisme.”
Andrei Karlov Dubes yang ditembak itu, meninggal dunia karena luka akibat penembakan dan rekaman dramatis peristiwa itu menunjukkan diplomat veteran tersebut ditembak dari belakang ketika membuka acara pameran foto Rusia di sebuah balai pameran di Ankara Turki.
Sejumlah gambar menunjukkan duta besar itu berdiri sambil berbicara di podium sebelum jatuh dan tergeletak di lantai saat penyerang yang mengenakan jas gelap, kemeja putih dan dasi menodongkan pistolnya ke arah para pengunjung pameran yang terkejut. Rekaman menunjukkan pria tersebut berteriak “Allahu Akbar” dan kemudian berbicara tentang sumpah setianya kepada para ekstremis dalam bahasa Arab.
Kemudian pria itu berbicara dalam Bahasa Turki, “Jangan lupa tentang Suriah, jangan lupa tentang Aleppo. Semua yang berpartisipasi dalam tirani ini akan dimintai pertanggungjawaban.”
Letusan tembakan itu membuat para pengunjung yang ketakutan bersembunyi di meja koktail tinggi yang ditempatkan di sana untuk pembukaan pameran.
Kantor berita pemerintah Turki, Anadolu, mewartakan pria bersenjata itu telah “dinetralkan” dalam operasi polisi di dalam ruang pameran itu setelah baku tembak selama 15 menit karena dia menolak menyerah.
Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengidentifikasi penyerang itu sebagai Mevlut Mert Altintas (22), yang bekerja di unit kepolisian anti-huru-hara Ankara dalam dua setengah tahun terakhir. Sejumlah laporan mengatakan bahwa ibu, ayah dan adik perempuannya segera ditahan untuk dimintai keterangan di rumah mereka di Turki barat.
Pembunuhan itu terjadi beberapa hari setelah protes di Turki mengenai peran Rusia di Suriah, meski Moskow dan Ankara sekarang bekerja sama erat untuk mengevakuasi warga dari kota medan tempur Aleppo.
Presiden Putin menyebut pembunuhan duta besar Rusia sebagai “provokasi” yang ditujukan untuk menyabotase menghangatnya hubungan antara Moskow dan Ankara dan upaya untuk mengatasi konflik Suriah.
“Hanya ada satu jawaban untuk ini, meningkatkan perang melawan terorisme, dan para bandit akan merasakan ini,” kata Putin dalam pertemuan dengan menteri luar negeri Rusia dan kepala-kepala badan intelijen di dalam dan luar negeri.
“Kita harus tahu siapa yang mengarahkan tangan pembunuh,” katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggaungkan komentar Putin, mengatakan pembunuhan itu ditujukan untuk merusak proses normalisasi yang berakar setelah krisis mengemuka ketika Turki menembak pesawat Rusia di atas Suriah. (Herwan)



































