
Kanalnews.co, JAKARTA- Jakarta belum benar-benar lepas dari cengkeraman hujan. Meski kalender sudah bergerak menuju musim panas, kenyataannya ibu kota masih terjebak dalam fase pancaroba yang bikin cuaca tak menentu, panas terik bisa berubah jadi hujan deras dalam hitungan jam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya buka suara soal kapan cuaca ini berakhir. Mereka memastikan, Jakarta belum masuk musim kemarau saat ini.
“Per hari ini belum masuk kemarau, mulai (masuk kemarau) Mei dasarian pertama,” tegas Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
Artinya, warga Jakarta masih harus bersiap menghadapi hujan yang datang tiba-tiba setidaknya hingga awal Mei.
Dalam prediksi resmi BMKG, dua zona musim di Jakarta akan mulai kering lebih cepat dari pola normal. Wilayah yang masuk ZOM BantenDKI 15 diperkirakan lebih dulu masuk kemarau pada awal Mei, sementara BantenDKI 16 menyusul di pertengahan bulan.
Bahkan, sebagian wilayah lain seperti Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, hingga Jakarta Utara sudah lebih dulu merasakan kemarau sejak awal April, lebih cepat dari biasanya.
Meski kemarau di depan mata, hujan belum juga angkat kaki. BMKG mengungkap biang keroknya bukan hal sepele. Fenomena atmosfer seperti gelombang Rossby, Kelvin, hingga Madden-Julian Oscillation (MJO) masih aktif mengacak-acak cuaca.
Ditambah lagi, peralihan dari Monsun Asia ke Monsun Australia ikut membentuk pola angin yang memicu pertumbuhan awan hujan.
“Sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan,” jelas BMKG.
Puncak Kemarau Baru Agustus
Jangan berharap cuaca langsung stabil setelah Mei. BMKG memperingatkan, puncak musim kemarau justru baru akan terasa pada Agustus 2026, saat lebih dari 60 persen wilayah Indonesia benar-benar kering.
Secara nasional, hingga akhir Maret, baru sekitar 7 persen wilayah yang masuk kemarau. Sisanya akan menyusul bertahap hingga Juni. (sis)





































