Foto Kemenpora

 

Kanalnews.co, JAKARTA- Ancaman sanksi pengurangan poin dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir menjadi peringatan serius bagi klub-klub sepak bola Indonesia. Klub yang dinilai gagal menjaga perilaku suporternya berpotensi menghadapi konsekuensi berat, terutama setelah insiden penyerangan bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18.

Dalam beberapa terakhir, terjadi aksi penyerangan oleh oknum sekelompok suporter. Setelah bus EPA Persib U-18 diserang pada Minggu (11/11/2026), muncul aksi serupa yang dialami oleh suporter The Jakmania.

Pendukung Persija Jakarta itu diserang dengan pelemparan batu di Tol Palikanci KM 200, Cirebon, Jawa Barat, pada Senin (12/11/2026) dini hari.

“Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang,” tegas Erick Thohir.

Erick menilai persoalan kekerasan dalam sepak bola tidak bisa terus dibiarkan tanpa konsekuensi tegas. Dia menyebut, klub dan operator kompetisi harus ikut bertanggung jawab agar insiden serupa tidak kembali terjadi.

Selain pengurangan poin, PSSI juga membuka kemungkinan menghentikan kembali kebijakan yang memperbolehkan suporter tim tamu hadir di stadion.

Kebijakan suporter away sebelumnya mulai dilonggarkan dengan syarat klub dan operator liga mampu menjamin keselamatan penonton. Namun, insiden penyerangan bus EPA Persib U-18 membuat kebijakan tersebut kembali terancam.

Erick bahkan memberikan waktu satu minggu kepada operator liga dan klub untuk mencapai kesepakatan mengenai sistem pengamanan suporter. Jika tidak ada kesepakatan, PSSI menyatakan siap mengambil langkah intervensi.

“Saya akan kasih kesempatan liga, klub untuk bersepakat satu minggu ini. Kalau tidak ada kesepakatan, kami PSSI akan intervensi,” ujar Erick.

Dia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga keselamatan suporter tidak hanya berada di tangan kepolisian. Klub dan operator kompetisi harus memastikan suporter dapat menyaksikan pertandingan hingga kembali ke rumah dengan selamat.

Bagi Erick, penyerangan terhadap bus EPA Persib U-18 sudah mengarah pada dugaan tindakan kriminal, terlebih terdapat laporan mengenai perusakan, pembakaran, dan pengambilan barang.

“Ketika terjadi penyerangan, apakah yang suporter, oknum, saya tidak mau bicara suporter, oknum suporter menyerang sebuah bus, yang saya lihat itu sudah menjurus kriminalitas,” ucap Erick.

Erick juga menegaskan bahwa aksi kekerasan tidak bisa dibenarkan dengan alasan rivalitas antarklub. Siapa pun yang terlibat harus mendapatkan penanganan sesuai aturan yang berlaku. (pht)