KANALNEWS.co, Jakarta – Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ditutup menguat 11 poin menjadi Rp11.990 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.001 per dolar AS.

“Indeks dolar AS kembali melemah terhadap rupiah meski dalam kisaran yang sempit menjelang pengumuman data inflasi Amerika Serikat. Para investor mulai mengesampingkan potensi kenaikan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi oleh Federal Reserve akibat melambatnya perekonomian global,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu (22/10/2014)

Menurutnya, data inflasi menjadi salah satu acuan bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga AS, diperkirakan inflasi AS stagnan. Bank sentral AS menetapkan target inflasi tahunan 2 persen, dan saat ini masih 1,7 persen.

Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan bahwa sentimen domestik kembali menopang indeks BEI berada dalam area positif. Sentimen dari dalam negeri terkait susunan kabinet yang kredibel menjadi sentimen positif bagi mata uang rupiah di pasar domestik.

Menurutnya penguatan rupiah masih cenderung terbatas dikarenakan sebagian pelaku pasar uang juga cenderung mengambil posisi wait and see menanti hasil nyata dari susunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Rabu (22/10) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp12.026 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp11.993 per dolar AS.  (Setiawan)