KANALNEWWS.co – Jakarta, Senior Vice President Corporate Investment and Business Development PT Pertamina (Persero) Gus Rizal menjelaskan akan menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya untuk menggarap proyek migas di Irak.

“Pertamina akan menjadi lokomotif untuk menggandeng gerbong BUMN sektor lainnya,” kata Gus Rizal, di Jakarta Rabu (19/12/2012).

Sinergi antar perusahaan pelat merah pada proyek di luar negeri ini sebagai bentuk untuk mewujudkan konsep Indonesia Incorporated yang merupakan konsep BUMN Indonesia bersatu dalam rangka menjadi perusahaan kelas dunia (world class company).

Menurutnya,  konsep Indonesia Incorporated perlu dilakukan BUMN guna meningkatkan daya saing Indonesia dengan negara lain. Negara-negara lain kata dia, sudah menerapkan konsep Incorporated. Di China misalnya, kalau ada proyek, mereka berani menekan harga yang ditawarkan dalam tender.

Konsep proyek Pertamina di Irak tidak hanya membeli blok minyak, tapi juga mengajak BUMN sebagai Indonesia Incorporated guna mendukung proyek tersebut. Adapun perusahaan plat merah yang digandeng Pertamina dalam menggarap proyek di Irak tersebut adalah di sektor infrastruktur.

“Kita ajak BUMN Karya seperti Wijaya Karya (Wika) dan Adhi Karya untuk dikembangkan dan berpartisipasi di proyek rekonstruksi Irak dan eksplorasi potensi-potensi di Irak,” katanya.

Menurut Gus, Irak menyambut baik rencana tersebut mengingat infrastruktur negara yang pernah dipimpin Sadam Husein tersebut rusak pasca gejolak politik berkepanjangan di Timur Tengah.

Dia optimis BUMN akan mampu mengembangkan pasar di Irak mengingat negara tersebut sedang berbenah seiring stabilnya kondisi politik dan ekonomi negara itu.

Sebelumnya, Pemerintah juga telah melakukan sejumlah upaya kerjasama bilateral dalam meningkatkan partisipasi Indonesia dalam proyek-proyek di Irak.

“Irak berambisi mengalahkan Arab Saudi dalam produksi minyak. Potensinya juga sangat besar diatas 10 juta barel per hari. Ini potensi,” katanya.

Sementara Itu Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto menjelaskan saat ini posisi daya saing Indonesia masih sangat rendah dibanding dengan negara lain, yakni pada posisi 46 dari 144 negara. Pemicunya adalah  birokrasi dan rendahnya daya saing produk manufaktur Indonesia.

Untuk meningkatkan daya saing, kata Airlangga, Indonesia harus membentuk sinergi seluruh kekuatan ekonomi, dalam hal ini BUMN sebagai salah satu pilar kekuatan.

Oleh karenanya, pemerintah diharapkan bisa merumuskan kebijakan yang mendorong sinergi antara BUMN, yang diikuti sinergi antara BUMN dan Swasta, BUMN dengan Koperasi atau UKM dengan Swasta.

“Kebijakan yang diperlukan adalah ketentuan dan standarisasi. Dengan demikian, meski karakteristik skala usaha, tata kelola dan nilai berbeda namun tetap bersinergi,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu Airlangga juga berharap supaya seluruh BUMN yang ada bisa mengoptimalkan kontribusinya terhadap negara guna meningkatkan daya saing Indonesia karena dari 140 BUMN, terdapat 80 persen yang beroperasi dengan modal terbatas dan skala usaha kurang signifikan. (Ant)