
Kanalnews.co, JAKARTA – Pengguna WhatsApp tampaknya bakal mendapat perlindungan tambahan dari aksi penipuan yang semakin sulit dikenali. WhatsApp tengah menguji fitur baru bernama Scam Alert yang dirancang untuk mendeteksi percakapan mencurigakan dan memperingatkan pengguna sebelum terjebak modus penipuan.
Fitur ini menjadi senjata baru WhatsApp menghadapi berbagai modus scam yang terus berkembang. Mulai dari penyamaran identitas, rekayasa sosial, hingga penipuan yang memanfaatkan konten buatan kecerdasan buatan (AI).
Namun, ada hal penting yang perlu diketahui pengguna. Scam Alert bersifat opsional dan tidak akan aktif secara otomatis. Pengguna harus mengaktifkannya terlebih dahulu.
Setelah diaktifkan, WhatsApp akan mengunduh model machine learning langsung ke perangkat. Teknologi tersebut kemudian menganalisis pesan dari nomor yang tidak tersimpan dalam kontak untuk melihat apakah percakapan menunjukkan pola yang berkaitan dengan modus penipuan yang telah dikenali.
Meta menjelaskan, model tersebut dilatih menggunakan pola percakapan scam berdasarkan laporan yang sebelumnya diberikan pengguna kepada WhatsApp.
Sistem selanjutnya melakukan klasifikasi probabilistik dengan memperhatikan struktur percakapan dan sinyal linguistik. Jika terdeteksi adanya indikasi penipuan, WhatsApp akan memunculkan peringatan langsung di dalam ruang chat.
Menariknya, peringatan tersebut hanya bisa dilihat oleh penerima pesan dan tidak akan muncul di sisi pengirim.
Pengguna kemudian diberikan sejumlah pilihan. Mereka bisa langsung memblokir nomor tersebut, melaporkannya, atau mengabaikan peringatan dan tetap melanjutkan percakapan.
WhatsApp juga menyiapkan mekanisme jika sistem ternyata salah mendeteksi. Pengguna dapat menandai percakapan sebagai tepercaya sehingga peringatan tersebut dihapus dan Scam Alert tidak lagi menandai percakapan yang sama.
Jika pengguna bersedia membantu meningkatkan kemampuan sistem, mereka juga dapat memilih membagikan lima pesan terakhir dari percakapan tersebut kepada WhatsApp.
Deteksi Scam Dilakukan Langsung di HP
Salah satu poin yang ditekankan Meta adalah lokasi pemrosesan data. Deteksi Scam Alert dilakukan langsung di perangkat pengguna, bukan dengan mengirim seluruh pesan ke server untuk dianalisis.
Meta mengklaim pesan yang diperiksa oleh model tidak dikirim keluar dari perangkat untuk proses klasifikasi dan tidak otomatis dilaporkan kepada WhatsApp, Meta, maupun pihak ketiga.
Dengan pendekatan tersebut, fitur ini dirancang tetap berjalan berdampingan dengan sistem enkripsi end-to-end yang menjadi salah satu perlindungan utama WhatsApp.
Artinya, WhatsApp tidak akan otomatis menerima isi pesan hanya karena sistem menduga percakapan tersebut merupakan scam.
Informasi dan isi percakapan baru dapat dikirim ke server WhatsApp apabila pengguna secara sadar memilih opsi untuk melaporkannya.
Pengguna pun tetap memiliki kendali penuh untuk mengaktifkan maupun menonaktifkan Scam Alert kapan saja.
Meta menyebut perkembangan teknologi machine learning yang dapat berjalan langsung di perangkat kini memungkinkan klasifikasi teks dilakukan di ponsel tanpa memberikan beban berarti terhadap performa, baterai, maupun ukuran model.
Saat ini, Scam Alert masih berada dalam tahap pengujian terbatas melalui versi Beta. Sebelum memperluas peluncurannya kepada seluruh pengguna, Meta akan terus menguji sistem tersebut bersama komunitas Bug Bounty serta meminta masukan dari para peneliti keamanan.
Jika nantinya dirilis secara luas, fitur ini berpotensi menjadi lapisan pertahanan baru bagi pengguna WhatsApp, terutama ketika modus penipuan semakin rapi dan semakin sulit dibedakan dari percakapan biasa. (pht)



































