Oleh: Ballian Siregar
KANALNEWS.co, Solo – Diego Mendieta, pemain Persis Solo yang berkompetisi di Liga Super Indonesia (LSI), Senin (3/12) malam sekitar pukul 23:00, meninggal dunia di RS Dr Moewardi Solo. Almarhum meninggal dalam keadaan memprihatinkan karena gaji selama empat bulan serta bonus, hingga kini belum diterimanya.
Mantan Ketua Umum Persis Solo, FX Hadi Rudyatmo menyebut kematian Diego Mendieta merupakan pelajaran berharga bagi PSSI selaku induk organisasi sepakbola nasional. “Ini peringatan untuk PSSI,” kata Rudy menanggapi kematian striker kelahiran Paraguay, 13 Juni 1980 itu.
PSSI melalui Sekjen Halim Mahfudz, kemarin, mengatakan, jangan membuat dikotomi LSI-IPL atas kematian Diego Mendieta. Tapi, lihat hal itu sebagai masalah kemanusiaan. Untuk itu, PSSI menarwakan bantuan pemulangan jenazah almarhum ke negaranya.
Namun, kata Halim, alhmarhum tidak dipulangkan ke Paraguay, negara asalnya. Tetapi, dikebumikan di Indonesia. “Kami sangat berharap kematian Diego Mendieta tak dikait-kaitkan dengan masalah lain,” kata Halim Mahfudz.
Seperti diberitakan, Diego Mendieta yang merupakan striker asing asal Paraguay, Senin (3/12) malam, meninggal dunia di RS Dr Moewardi Solo setelah sakit dalam beberapa bulan terakhir. Ironisnya, Mendieta tak mampu membayar biaya perawatan selama di rumah sakit karena gaji plus bonusnya selama empat bulan sebagai pemain di Persis Solo, belum dilunasi klub.
Pengelola Rumah Sakit Dr Moewardi Solo menyatakan, kematian Diego Mendieta disebabkan disebabkan virus dan jamur yang menyebar di tubuhnya. “Saat dirujuk Moewardi, almarhum sudah lemah,” kata Kepala Bagian Penyakit Dalam RS Dr Moewardi Solo Prof Dr Ahmad Guntur Hermawan di Solo, Selasa 4/12) pagi.
Hasil diagnosa kedokteran, virus Cylomegalo terdeteksi menyerang mata hingga otak. Selain itu, jamur Candidiasis telah menyerang kerongkongan dan saluran pencernaan. Virus itu menyebabkan daya tahan tubuh terus merosot.
Selain secara klinis, faktor psikologis juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan Diego. “Almarhum sering mengeluh kesepian karena seluruh kerabatnya berada di Paraguay,” kata Dr. Ahmad Guntur.*








































