
Kanalnews.co, JAKARTA — Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamen Kominfo), Nezar Patria mengatakan perlunya kerja sama antar pemangku kepentingan dalam mewujudkan Indonesia sebagai episentrum pengembangan Artificial intelligence (AI) di ASEAN.
Hal itu disampaikan Wamen Nezar Patria dalam agenda 4th AI Innovation Summit, pada Selasa, (13/08/2024) di Hall D1 Jakarta International Expo, Jakarta Pusat
“Kolaborasi antara semua stakeholders sangat diperlukan untuk mendorong inovasi di bidang AI. Kita perlu dukungan yang konkret untuk memperkuat kolaborasi dan mempercepat inovasi. Dengan harapan Indonesia akan menjadi epicentrum pengembangan AI di regional,” ujar Wamen Nezar, dilansir dari siaran pers Kemenkominfo.
Wamen Nezar juga optimis dengan kolaborasi lintas stakeholder menghadirkan kebijakan dan inisiatif yang semakin inovatif dalam memaksimalkan potensi AI.
“Sambil memastikan manfaatnya tersebar secara adil di seluruh masyarakat, mari kita terus gemakan kolaborasi dan merajut kerja sama untuk memperkaya inovasi generasi muda Indonesia dalam bidang AI,” kata Wamen Nezar.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pada tingkat regional, ASEAN sudah mengenalkan panduan ASEAN Guide on AI Governance and Ethics. Sehingga, panduan tersebut dapat dijadikan acuan organisasi dan pemerintah di kawasan ASEAN, terlebih untuk menyusun, menerapkan, hingga mengembanglan AI sesuai dengan prinsip yang ada.
“Dengan mengedepankan tiga prinsip utama yaitu fairness and equity, transparency and explainability, serta human centricity. Prinsip-prinsip ini menggarisbawahi pentingnya penggunaan AI yang adil, transparan, dan berfokus pada kesejahteraan manusia. Dengan mengutamakan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan penggunaan AI dapat dilakukan secara akuntabel tanpa diskriminasi,” ungkap Wamen Nezar.
Menurutnya, pemerintah Indonesia sendiri telah berkomitmen dalam mengelola AI. Hal itu ditunjukkan dengan diterbitkannya Surat Edaran Etika Kecerdasan Artifisial.
Surat edaran, lanjut Wamen Nezar, memuat terkait prinsip kesetaraan, keadilan, dan perdamaian, serta aksesibilitas bagi pengguna serta penghormatan hak asasi manusia (HAM). Ia juga optimis dengan regulasi tersebut dapat mendukung pengembangan AI secara berkelanjutan.
“Surat Edaran ini berisi panduan mengenai prinsip dan norma etis dalam pengembangan dan penggunaan teknologi AI, dengan menekankan nilai inklusivitas, transparansi, kemanusiaan, dan keamanan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini, diharapkan AI dapat memberikan manfaat yang merata dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelas Wamen Nezar.
Namun, Wamen Nezar menekankan bahwa tata kelola AI memerlukan kerangka yang solid guna memberikan dampak kepada masyarakat secara luas.
“Ada beberapa kerangka kebijakan AI yang perlu diperhatikan untuk menciptakan tata kelola yang inklusif. Baik di tingkat global, regional, maupun nasional. Kerangka ini penting agar teknologi AI dapat berkembang dengan cara yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” ucap Wamen Nezar.
Selain itu, Wamen Nezar menyampaikan apresiasinya terhadap KORIKA yang menjadi inisiator dalam inovasi AI di Indonesia, seperti melalui diskusi-diskusi yang diagendakan.
“KORIKA telah konsisten dalam me-mainstream-kan perbincangan AI dan mendorong inovasi di Tanah Air. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan teknologi cutting edge ini dalam transformasi digital,” tutur Wamen Nezar.
Ia juga berharap kedepannya AIIS 2024 terus diselenggarakan guna membahas perkembangan terbaru sekaligus strategi dalam pengembangan AI, termasuk menjadi ruang kolaborasi lintas pemangku kepentingan maupun stakeholder dalam menciptakan tata kelola yang inklusif, berkelanjutan, serta terpercaya.
“Forum ini penting untuk memfasilitasi diskusi tentang hal-hal kontemporer dalam pengembangan AI. Dukungan dari negara sangat dibutuhkan untuk menjadikan Indonesia pusat pengembangan AI di kawasan Asia Tenggara,” terang Wamen Nezar. (aof)






































