
Kanalnews.co, MALANG– Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan kronologis tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang. Total ada 11 anggota polisi yang terbukti menembakkan gas air mata.
Menurutnya pada awalnya pertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) berjalan normal. Namun suporter turun ke lapangan usai Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya.
Pada saat itu, polisi mencoba mengamankan pemain Persebaya dengan membawanya ke taktis Barracuda. Namun prosesnya sulit karena polisi dihadang oleh suporter.
“Namun demikian, semua bisa berjalan lancar. Dan evakuasi saat itu dipimpin oleh kapolres,” ujarnya.
Akan tetapi, suporter Aremania terus saja merangsek ke dalam lapangan. Polisi berupaya menyelamatkan pemain Arema ke dalam, tapi penonton semakin banyak yang masuk ke dalam lapangan hingga polisi memilih menembakkan gas air mata.
“Beberapa personel menembakkan gas air mata. Terdapat 11 personel yang menembakkan gas air mata, ke tribun selatan kurang lebih 7 tembakan, ke tribun utara 1 tembakan, dan ke lapangan 3 tembakan,” jelasnya.
“Tentu ini yang kemudian mengakibatkan para penonton, terutama yang ada di tribun yang ditembakkan panik, merasa pedih, dan kemudian berusaha segera meninggalkan arena,” kata Sigit.
Keputusan menembakkan gas air mata disebutnya karena polisi mencegah penonton turun ke dalam lapangan. Namun yang terjadi adalah ribuan suporter panik, sesak nafas, perih sambil berusaha mencari pintu keluar tapi tidak bisa.
“Khususnya di Pintu 3, 10, 11, 12, 13, dan 14 sedikit mengalami kendala karena ada aturan di tribun atau stadion ini ada 14 pintu. Seharusnya, 5 menit sebelum pertandingan berakhir, maka seluruh pintu tersebut seharusnya dibuka,” katanya.
Namun naas, pintu stadion terkunci. Tidak ada satu pun penjaga pintu atau steward yang standby di dalam stadion Kanjuruhan. Padahal berdasarkan Pasal 21 regulasi keselamatan dan keamanan PSSI, steward harus berjaga selama penonton ada di dalam stadion.
Sementara itu terdapat besi melintang setinggi kurang lebih 5 cm yang menghambat penonton keluar pintu stadion.
“Dari situlah muncul korban-korban yang mengalami patah tulang, yang mengalami trauma di kepala (torax), dan juga sebagian besar yang meninggal mengalami asfiksia,” katanya. (ads)


































