
Kanalnews.co, JAKARTA – Di tengah dinamika menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 1-4 Agustus 2026, nama KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin kerap disebut sebagai salah satu figur yang layak diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.
Sebagai tokoh yang lahir dari rahim pesantren, dibesarkan dalam tradisi pesantren, dan memiliki akar genealogis yang kuat dengan Hadrotus Syeh Hasyim Asy’ari, pendiri NU, Gus Kikin dipandang oleh sebagian kalangan sebagai representasi kesinambungan tradisi, moderasi, dan kepemimpinan modern di lingkungan Nahdliyin.
Gus Kikin disebut sebagai kandidat potensial dan alternatif dari dinamika kontestasi calon pimpinan PBNU belakangan ini, merupakan arus kuat aspirasi yang berkembang di kalangan warga Nahdliyin.
Akar Keluarga dan Silsilah Keulamaan
Abdul Hakim Mahfudz lahir pada 17 Agustus 1958 di Jombang dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum. Ayahnya merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang, sedangkan dari jalur ibu, Gus Kikin merupakan cicit dari Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Silsilahnya dari jalur ibu adalah:
KH Muhammad Hasyim Asy’ari → Nyai Khairiyah Hasyim → Nyai Abidah Ma’shum → KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Nyai Khairiyah adalah putri sulung Hadratussyaikh yang menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama falak terkemuka dan penyusun kitab Amtsilah Tashrifiyah.
Dengan latar genealogis tersebut, Gus Kikin bukan hanya mewarisi nasab biologis, tetapi juga tradisi intelektual, spiritual, dan perjuangan kebangsaan yang telah menjadi fondasi NU sejak didirikan tahun 1926.
Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Pendidikan agama Gus Kikin diperoleh langsung dari lingkungan keluarga pesantren, khususnya dari ayah beliau, KH Mahfudz Anwar. Adapun pendidikan formal ditempuh di Jombang, mulai MI Parimono, SMP Negeri 1 Jombang, hingga SMPP (kini SMAN 2 Jombang). Setelah itu beliau melanjutkan studi pada Akademi Pelayaran. Pengalaman sebagai pelaut dan dunia usaha kemudian turut membentuk keluasan pandangan beliau dalam melihat realitas sosial, ekonomi, dan kebangsaan.
Sosok Berpengalaman dalam Kepemimpinan
Dalam perjalanan organisasi, Gus Kikin dikenal lebih sebagai pemimpin kultural ketimbang figur politik praktis. Karena memang tidak pernah terlibat dalam partai politik apapun.
Beberapa amanah yang pernah dan sedang diemban antara lain:
Pengasuh ke-8 Pondok Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) pada tahun 2020.
Salah satu Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022–2027.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur masa khidmat 2024–2029 hasil Konferwil XVIII NU Jawa Timur.
Aktif membina berbagai lembaga pendidikan di lingkungan Tebuireng, termasuk pengembangan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.
Jabatan-jabatan tersebut menunjukkan bahwa Gus Kikin telah memiliki pengalaman memimpin baik dalam lingkup pesantren maupun organisasi NU tingkat nasional dan wilayah.
Corak Pemikiran: Kontekstualisasi Warisan Hadratus Syeh KH M. Hasyim Asy’ari
Salah satu karakter menonjol Gus Kikin adalah keseriusannya dalam upaya menjaga kesinambungan pemikiran Hadratus Syeh KH M. Hasyim Asy’ari dalam konteks Indonesia kontemporer.
Dalam berbagai forum, beliau menegaskan bahwa pesantren dan santri tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus menjadi pencetak masa depan bangsa. Modernisasi dan kemajuan teknologi dipandang bukan ancaman, melainkan instrumen untuk memperkuat dakwah dan pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Corak berpikir ini sejalan dengan prinsip klasik Nahdlatul Ulama:
> المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
“Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”
Dalam konteks ke-NU-an dan keindonesiaan, beliau selalu menegaskan urgensi merefleksikan pemikiran Mbah Hasyim Asy’ari dalam konteks Indonesia kontemporer. Beliau menuangkan seluruh riset dan renungannya terhadap pemikiran Mbah Hasyim Asy’ari dalam bukunya “Hadrotus Syeh KH Hasyim Asy’ari: Pemersatu Umat Islam Indonesia”.
Figur Alternatif di Tengah Dinamika Ke-NU-an
Sebagian warga Nahdliyin memandang Gus Kikin sebagai figur yang relatif dapat diterima berbagai kalangan karena posisinya yang selama ini dikenal teduh, tidak konfrontatif, dan lebih menonjolkan pendekatan persuasif serta kultural. Tetapi keteguhan dalam menjaga marwah NU dan keulamaan, bagi beliau tidak selayaknya ulama mendekat kepada penguasa, tetapi wajib justru untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
Latar belakang pesantren Tebuireng, kedekatan genealogis dengan pendiri NU, serta pengalaman memimpin organisasi besar menjadi modal penting dalam membangun komunikasi lintas kelompok di tubuh NU.
Di tengah berbagai dinamika internal NU, figur seperti Gus Kikin oleh sebagian kalangan dipandang dapat menghadirkan kepemimpinan yang lebih menekankan rekonsiliasi, penguatan ukhuwah nahdliyah, dan pengembalian orientasi organisasi kepada khittah, pendidikan, dakwah, serta pelayanan umat.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih dalam Muktamar ke-35 kelak diharapkan mampu menjaga marwah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang didirikan oleh para ulama untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Imam Baehaqi
Pengasuh PP Ma’hadul Ilmi as-Syar’i Sarang, Pendiri dan pengajar STAI Al Kamal Sarang, dan Alumni PP Tebuireng 1990.





































