KANALNEWS.co, Jakarta – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional (KONI) Pusat Tono Suratman mengatakan dukungan pemerintah pada ajang olahraga multi event SEA Games 2017 masih terasa kurang maksimal, hal ini berimbas pada persiapan kontingen Indonesia.

“Kami akui dukungan pemerintah kurang dengan sisa waktu 2 bulan dan akhirnya terkendala pada persiapan atlet khususnya yang akan melakukan try out dan training camp ke luar negeri,” jelas Tono disela-sela acara buka puasa bersama KONI Pusat dan stake holder olahraga di Jakarta Kamis (15/6/2017) malam.

Tono menambahkan, KONI sebagai pembina atlet hanya bisa mendukung. Sementara dana pembinaan datangnya dari pemerintah. Namun sayangnya selama ini pemerintah pusat kurang memperhatikan kebutuhan atlet dalam mempersiapkan diri menuju SEA Games Kuala Lumpur, Malaysia Agustus mendatang dan Ia mematok posisi lima besar adalah hasil yang maksimal.

“Kami meragukan kontingen Indonesia bisa berprestasi karena minimnya anggaran. Kita bisa masuk lima besar sudah bagus,” kata Tono menambahkan.

Menuruta Tono seharusnya pemerintah sadar bahwa SEA Games adalah kegiatan multi event paling bergengsi di kawasan regional Asia pasalnya capaian prestasi atlet di kawasan Asia Tenggara itu akan menjadi tolak ukur menuju asian Games 2018 dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah yang digelar di Jakarta dan Palembang.

“Pemerintah harus konsen memberi dukungan terhadap pembinaan olahraga secara nasional. Filosofi olahraga itu harus dijalankan bersama antara pemerintah dan pelaku olahraga itu sendiri.Kalau tidak, bagaimana olahraga Indonesia bisa berprestasi,” ujar pensiunan jenderal TNI bintang dua itu menjelaskan.

“Saya melihat ada kendala ketersediaan anggaran dalam mempersiapkan atlet,” jelasnya menambahkan.

Terkait dengan ketesedian anggaran, KONI Pusat juga sudah menyampaikan hal ini ke Kasatlak Prima bahwa pihaknya ada keraguan dengan raihan prestasi maksimal. Namun seretnya anggaran itu bukan berarti para atlet tidak berlatih. Mereka berlatih, tetapi dengan dukungan pokok yang kurang maksimal salah satunya adalah anggaran kurang maksimal. Sarana sudah ada, tetapi anggaran untuk melakukan uji coba untuk memantau sejauh mana hasil persiapan kemudian perlengkapan belum terdukung ini yang menjadi pokok persoalan.

“Saya berharap ke depan kucuran anggaran untuk membiayai pelatnas menghadapi berbagai multievent lebih lancar lagi. Kalau kita datang kemudian tidak berprestasi tentunya masyarakat olahraga prestasi akan merasa malu. Kita sebenarnya kita tidak kalah dari negara-negara lain. Maka dari itu seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional harus bersinergi,” jelasnya.

“Bisa bertahan di peringkat kelima besar saja sudah bagus. Apalagi kita tahu sesuai dengan rule and chapter dan ajang SEA Games biasanya selalu didominasi oleh cabor-cabor pilihan tuan rumah,” demikian Tono. (Herwan)