Oleh: Ballian Siregar

KANALNEWS.co, Jakarta – Batalnya legenda hidup sepakbola dunia, Diego Armando Maradona mengunjungi Makassar untuk kegiatan Tango Football dan Klinik Kepelatihan, Selasa (2/7), disebabkan politisasi sepakbola untuk tujuan kampanye Pemilukada.

Karena itu, Edy Sofyan selaku promotor  memahami mengapa Maradona menolak  datang ke Makassar. Maradona, seperti diungkapkan Edy Sofyan, memilih membatalkan kunjungannya  ke Makassar karena takut dideportasi.

Menurut Edy Sofyan, seperti halnya di Jakarta, kontrak Maradona dengan promotor dalam hal ini Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (BASRI), menggelar Tango Football dan klinik kepelatihan, serta seminar sepakbola. Jika dia  membantu seseorang berkampanye, itu  menyalahi kontraknya sehingga sangat mungkin di deportasi.

Seperti ramai diberitakan,  kehadiran Maradona ke Makassar dimanfatkan untuk kampanye politik oleh kandidat Walikota Makassar, Irman Yasin Limpo.  Namun,  Limpo seperti diungkapkannya kepada wartawan, kemarin, apa yang dilakukannya  membawa-bawa Maradona dalam kampanye politik, sudah sepengetahuan promotor.

Namun hal itu dibantah Edy Sofyan seperti diungkapkannya kepada Pos Kota, Selasa (2/7) sore. Menurutnya, ada fakta dan bukti 18 guntingan koran yang dia terima bahwa ada kandidat walikota memanfaatkan rencana kedatangan Maradona ke Makassar untuk kampanye politik. “Itu di luar pengetahuan saya,” kata Edy.

Namun, Edy sangat menyesalkan namun memahami mengapa Maradona yang dijadwalkan berada di Makassar, Selasa (2/7), memutuskan batal datang. “Maradona itu sangat anti dengan politisasi sepakbola,” kata Edy Sofyan.

Karena itu, semua pihak harus menahan diri atas semua kerugian, baik materil maupun moril. Edy berjanji akan menggantinya dengan kompensasi mendatangkan Lionel Messi, termasuk ke Makassar pada Desember mendatang.

Hingga menit-menit terakhir, kata Edy, dia masih terus membujuk Diego Maradona agar mau datang ke Makassar. Namun, keputusannya memang tak bisa diubah lagi karena Sang Legenda  tidak mau menjadikan sepakbola sebagai komoditas politik. Maradona pun memilih meninggalkan Indonesia, Selasa (2/7).

Mengenai batalnya klinik kepelatihan di Jakarta, Edy mengaku ada keselahan dari krunya. Saat berada di Senayan, fokus orang hanya kepada Maradona sehingga dalam kondisi yang tak terkendali, klinik kepelatihan tak bisa digelar.*