
Kanalnews.co, JAKARTA- Mantan wapres Jusuf Kalla dilaporkan sejumlah organisasi Kristen ke polisi. Pihak JK membantah keras tudingan penistaan agama yang ramai di media sosial.
Lewat juru bicaranya, Husain Abdullah,menyebut tuduhan tersebut muncul akibat video ceramah yang dipotong dan kehilangan konteks. Potongan video yang viral itu menampilkan pernyataan JK soal konflik Poso dan Ambon, termasuk penggunaan istilah “syahid” untuk kedua pihak yang bertikai.
“Ini jelas akibat pemotongan konteks. Kami membantah tegas tuduhan tersebut,” ujar Husain.
Menurutnya, pernyataan JK justru bertujuan meluruskan pemahaman keliru soal agama. Dalam ceramahnya di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, JK menegaskan tidak ada satu pun agama yang membenarkan pembunuhan atas nama keyakinan.
Husain menjelaskan, saat itu JK sedang menceritakan perannya dalam meredam konflik berdarah di Poso dan Ambon pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ia menggambarkan bagaimana kedua kelompok yang bertikai Islam dan Kristen, sama-sama terjebak dalam narasi ‘perang suci” yang berujung pada ribuan korban jiwa.
“Pak JK justru meluruskan bahwa keyakinan tersebut keliru dan tidak diajarkan oleh agama mana pun,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fakta kelam di lapangan kala itu, di mana kekerasan sudah melampaui batas kemanusiaan dengan korban dari kalangan anak-anak, perempuan, hingga lansia.
Husain menegaskan, keberhasilan JK mendamaikan konflik tersebut bukan sekadar klaim, melainkan fakta sejarah melalui Perundingan Malino I (2001) dan Malino II (2002), yang mempertemukan tokoh agama, panglima lapangan, hingga pemerintah.
Di sisi lain, laporan terhadap JK datang dari DPP GAMKI bersama sejumlah organisasi lain, termasuk Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) dan Asosiasi Pendeta Indonesia (API). Mereka menilai pernyataan JK menyinggung keyakinan umat Kristen dan memicu kegaduhan publik.
Ketua Umum GAMKI, Sahat Sinurat, bahkan mengecam keras ucapan tersebut. Ia menegaskan ajaran Kristen tidak pernah membenarkan pembunuhan sebagai jalan menuju surga, melainkan mengajarkan kasih terhadap sesama, termasuk kepada musuh.
Kontroversi ini kembali membuka luka lama konflik Poso (1998-2001) dan Ambon (1999-2002), yang selama ini dikenal sebagai konflik bernuansa agama, meski juga dipicu faktor ekonomi, politik lokal, dan perubahan demografi. (ads)



































