KANALNEWS.co, Tangerang- Pasokan elpiji tabung ukuran 3 kg yang didistribusi Pertamina ke seluruh agen dan pangakalan di wilayah MOR III wilayah pemasaran Jawa bagian Barat, cukup aman. Terbukti, dari evaluasi operasi pasar Elpiji 3 kg yang digelar Pertamina di kawasan Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang, tidak ditemukan adanya kelangkaan pasokan elpiji bersubsidi tersebut.

External Relations Pertamina Pemasaran Jawa bagian Barat, Mila Suciyani, mengatakan, pendistribusian Elpiji 3 kg di wilayah MOR III telah sesuai kuota sehingga Pertamina menjamin tidak akan terjasdi kelangkaan pasokan. Namun, bila masih tedapat masalah masyarakat dapat melaporkan langsung melalui Kontak Pertamina 500000.

“Hari ini Pertamina menggelar operasi pasar Elpiji 3 kg di wilayah Tangerang. Sebelumnya, kami telah melakukan operasi pasar di wilayah Bogor, Depok dan Bekasi. Dari evaluasi, kami tidak menemukan adanya kelangkaan pasokan baik di agen-agen maupun pangkalan,” kata Mila Suciyani ketikan menggelar operasi pasar di Tamngerang Banten, Kamis (4/3).

Selain Mila Suciyani, hadir pula Media Manager Pertamina, Adiatma Sardjito. Adiatma Sardjito mengatakan, PT Pertamina (Persero) menggelar operasi pasar Elpiji 3 kg serentak secara nasional untuk memastikan pasokan elpiji bersubsidi untuk masyarakat miskin dan usaha mikro tersebut aman.

“Operasi pasa ini adalah untuk memastikan bahwa Elpiji 3kg untuk masyarakat miskin. Nah, ke depan setiap tabung elpiji 3 kg, ini akan dipasang lebel bertuliskan ‘Hanya Untuk Masyarakat Miskin’…Pertamina mengingatkan bahwa elpiji bersubsidi ini hanya untuk orang miskin,” kata Adiatma Sardjito.

Menurut Adiatma, elpiji hanya ditujukan untuk kelompok masyarakat miskin dan kelompok usaha mikro. Kategori masyarakat miskin, adalah konsumen yang berpenghasilan kurang dari Rp1,5 juta. Sementara, kategori usaha mikro adalah mereka yang menjalankan suatu usaha yang memiliki aset kurang dari Rp50 juta atau omsetnya kurang dari Rp300 juta pe tahun.

“Elpiji 3kg ini adalah disubsidi  oleh Pemerintah. Karena itu,  hanya diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu atau yang disebut miskin. Namun, bisa juga untuk mereka yang menjalankan usaha kecil yang omsetnya kurang dari Rp300 juta per tahun,” kata Adiatma Sardjito.

Sementara itu, di tempat terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan operasi pasar Elpiji 3 kg di yang digelar serentak di 74 titik dan tersebar 21 kabupaten dan kota di tiga wilayah pemasaran, yaitu MOR I wilayah Sumatera bagian Utara, MOR III wilayah Jawa bagian Barat, dan MOR V di wilayah Jawa bagian Timur. Terdapat sebanyak 69 agen dan SPBU yang terlibat dalam operasi pasar Elpiji 3 kg kali ini.

“Operasi pasar kali ini kami lakukan secara serentak langsung di 74 titik untuk memastikan bahwa stok Elpiji 3 kg aman untuk memenuhi tingkat permintaan masyarakat. Untuk selanjutnya kami akan terus lakukan evaluasi berdasarkan kondisi riil di masyarakat berdasarkan  realisasi dari oprerasi pasar ini. Yang terpenting adalah agar masyarakat pengguna Elpiji 3 kg tenang, dan bisa memperoleh Elpiji 3 kg bersubsidi itu dengan mudah dan harga normal,” kata Ali.

Dalam Operasi pasar hari ini, Pertamina menggelontorkan sebanyak 37.700 tabung Elpiji 3 kg atau setara dengan 113,1 MT. Sebanyak 2.320 tabung disalurkan di Binjai, Sumatera Utara, 8.960 tabung di Jabodetabek, sedangkan 23.520 tabung untuk Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dan 2.900 tabung di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Ali menjelaskan operasi pasar Elpiji 3 kg secara serentak yang dilakukan Pertamina merupakan kelanjutan dari operasi pasar sebelumnya yang digelar di beberapa kabupaten/kota di wilayah Jawa bagian Barat. Namun, berdasarkan evaluasi hasil penyaluran operasi pasar yang telah dilakukan tersebut, realisasi pembelian Elpiji 3 kg oleh masyarakat  sangat rendah.

“Sebelumnya kami juga telah melakukan beberapa kali operasi pasar di beberapa titik menindaklanjuti informasi atau keluhan masyarakat, akan tetapi realisasi pembelian Elpiji 3 kg ternyata sangat rendah, rata-rata hanya sekitar 10% dari tabung yang kita sediakan. Kesimpulan kami, pasokan Elpiji 3 kg di masyarakat sudah sudah sangat cukup sehingga isu-isu kelangkaan adalah aksi para spekulan yang ingin ambil untung dengan menaikkan harga,” kata Ali.

Hal ini mengingat bahwa sifat komiditas LPG sangat berbeda dibanding komoditas bahan kebutuhan pokok seperti beras atau minyak goreng. Jika ada operasi pasar minyak goreng atau beras, biasanya tingkat penyerapan masyarakat masih tetap tinggi karena keduanya bisa disimpan, sedangkan LPG, jika belum habis maka masyarakat tidak akan bisa membeli karena tidak ada tabung yang dapat ditukarkan.

Seperti diinformasikan sebelumnya, selain melakukan operasi pasar Pertamina juga telah menggelontorkan Elpiji 3 kg ke SPBU-SPBU. Elpiji 3 kg yang dikhususkan untuk rumah tangga miskin dan usaha mikro tersebut dijual dengan harga sesuai HET yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.

“Dengan dijualnya Elpiji 3 kg di SPBU,  diharapkan masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan untuk membeli Elpiji 3 kg, yang tentu saja dijual dengan harga yang wajar atau sesuai HET setempat. Apabila masyarakat mendapatkan tindakan menyimpang, agar melaporkannya kepada Pertamina melalui Kontak Pertamina 500000 (GSM: 021-500000) dan sms ke 0815-9-500000. Sementara itu, jika masyarakat menemukan hal-hal yang mencurigakan terkait penimbunan ataupun penyimpangan lain yang melanggar hukum, bisa juga langsung melaporkan kepada pihak yang berwajib,” tegasnya. (Mulkani)