
Kanalnews.co, JAKARTA – Aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan tren penurunan. Setelah hampir tiga bulan berada dalam status Siaga, gunung api aktif tersebut kini resmi diturunkan statusnya menjadi Level II atau Waspada.
Badan Geologi Kementerian ESDM menetapkan perubahan status itu mulai Senin (21/9) pukul 18.30 WIB. Meski level aktivitas turun, potensi bahaya dari Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya hilang.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menegaskan masyarakat masih harus mematuhi batas aman yang telah ditetapkan.
“Pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 2 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Lana dalam keterangan resminya.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan lontaran batu pijar maupun hujan abu lebat yang masih dapat terjadi di sekitar gunung.
Penurunan status ini dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung menurun hingga 20 September 2026 pukul 00.00 WIB.
Pada 20 September, catatan kegempaan menunjukkan satu kali gempa low frequency serta tremor menerus dengan rata-rata amplitudo 2 milimeter.
Pemantauan terhadap gunung api tipe A tersebut tetap dilakukan dari dua pos pengamatan, yakni Pos Pantau di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau ditetapkan berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Dalam periode tersebut, aktivitas erupsi tercatat cukup tinggi dengan 224 kali erupsi hingga 3 September 2026.
Situasi sempat semakin intens pada 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam.
Data citra satelit juga menunjukkan erupsi tersebut menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat, dan barat daya dari pusat erupsi.
Meski kini statusnya turun ke Level II, Badan Geologi menegaskan kondisi Gunung Anak Krakatau tetap akan dipantau secara ketat.
“Tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau akan dievaluasi kembali secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan,” ujar Lana. (ads)



































