
Kanalnews.co, JAKARTA – Upaya menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo belum sepenuhnya berjalan mulus. Tim gabungan harus menghadapi tantangan berat, mulai dari cepatnya pergerakan api hingga kabut tebal yang memaksa helikopter water bombing menghentikan operasi.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan kondisi tersebut membuat strategi pemadaman harus dilakukan secara bergantian antara jalur udara dan darat.
Pada malam hari, misalnya, petugas tidak bisa mengandalkan helikopter karena keterbatasan operasional. Para personel pun harus turun langsung ke lapangan dengan peralatan manual untuk menahan agar kobaran api tidak semakin meluas.
“Jadi helikopter tidak bisa beroperasi di malam hari. Sedangkan di malam hari ini kita juga harus terus memukul mundur api, api harus dipukul mundur,” kata Emil.
Petugas menggunakan gepyok untuk menangani api secara manual. Sejumlah unit pemadam kebakaran juga dikerahkan dengan koordinasi BPBD Jawa Timur, BPBD kabupaten sekitar, serta dukungan BPBD dari sejumlah daerah lainnya.
Tantangan lain muncul dari kondisi cuaca. Kabut tebal di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membuat jarak pandang pilot terbatas sehingga pengerahan helikopter water bombing tidak bisa dilakukan secara maksimal.
Padahal, pada Senin (10/8), dua helikopter BNPB sudah diterjunkan untuk menggempur titik-titik api dari udara. Helikopter PK-DAP mampu membawa sekitar 1.000 liter air dalam setiap sorti dan telah melakukan empat kali water bombing.
Sementara itu, helikopter Super Puma dengan kode PK-DAN memiliki kapasitas jauh lebih besar, yakni sekitar 4.000 liter air dalam sekali pengambilan. Dalam satu hari, helikopter tersebut telah melakukan lima kali rit dengan total 20 ribu liter air yang dijatuhkan ke kawasan terdampak.
Namun, misi tersebut harus dihentikan sementara sekitar pukul 14.00 WIB setelah kabut tebal muncul.
“Ini sudah 5 rit. Jadi total 20.000 liter. Namun pada kisaran pukul 14.00 WIB, karena kabut, bukan asap dari kebakaran, tapi karena kabut mereka harus kembali ke Malang,” ujar Emil.
Menurut Emil, pengerahan helikopter menjadi sangat penting karena laju api di beberapa titik sempat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan personel di darat untuk menanganinya.
Dia mengatakan kondisi tersebut terjadi setelah sejumlah titik yang sebelumnya mulai menunjukkan kondisi kondusif justru kembali memunculkan api dan membuat penyebaran kebakaran berlangsung cepat.
“Seperti tadi dalam kasus di Bromo Tengger Semeru ini, titik awal yang sebenarnya sudah mulai kondusif tetapi kemudian muncul api yang menyebabkannya jauh lebih cepat dan tidak bisa diimbangi dengan kesediaan personel saat itu sehingga mau tidak mau harus dibantu helikopter water bombing,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi terkini mulai menunjukkan perkembangan positif. Emil menyebut titik kebakaran di Puncak P-30 sudah berhasil dikendalikan. Sementara titik Dingklik dan Penanjakan juga mulai menunjukkan penurunan tingkat penyebaran api.
“Jadi sekarang P30 sudah terkendali, fokus ke Dingklik juga sudah mulai tren turun tingkat penyebarannya dan Penanjakan juga sama,” tuturnya.
Pemprov Jawa Timur tetap memasang status siaga meski kondisi di sejumlah titik mulai membaik. Kesiapan personel, armada pemadam, peralatan manual hingga alat pelindung diri terus dipastikan.
Emil mengingatkan keselamatan petugas menjadi perhatian utama karena mereka harus bekerja di tengah kepungan asap yang dapat membahayakan kesehatan.
“Kita tetap siaga. Artinya unit damkarnya, kemudian personelnya, alat-alat gepyok dan yang tidak kalah penting alat pelindung diri bagi para petugas karena mereka akan berhadapan dengan asap,” katanya.
Karhutla di kawasan Bromo sendiri mulai terjadi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Seiring meluasnya titik api, TNBTS kemudian menutup sementara seluruh akses wisata ke kawasan Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8).
Hingga Senin (10/8), area yang terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 742 hektare. Pemadaman masih dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan melibatkan tiga helikopter, satu drone, delapan unit pemadam kebakaran serta personel gabungan dari berbagai instansi. (pht9


































