Kanalnews.co, JAKARTA – Jakarta kini bukan cuma macet dan penuh polusi, tetapi juga diselimuti cuaca panas. Apa penyebabnya?

Dalam beberapa hari terakhir, suhu terasa di ibu kota diprediksi bisa mencapai 43 derajat Celsius. Kondisi ini membuat banyak warga merasa seperti hidup di dalam oven terbuka.

Penyebab utama panas ekstrem ini ternyata bukan sekadar cuaca kemarau atau terik Matahari biasa. Para ahli menyoroti fenomena Urban Heat Island (UHI), yakni kondisi ketika kawasan perkotaan menjadi jauh lebih panas dibanding wilayah sekitarnya akibat ulah manusia sendiri.

Aspal jalanan, gedung beton, kaca pencakar langit, hingga minimnya pepohonan disebut menjadi pemicu utama. Material beton dan aspal menyerap panas sepanjang hari lalu memantulkannya kembali saat malam, membuat suhu Jakarta tetap gerah bahkan setelah Matahari terbenam.

Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pernah mengungkap Jabodetabek masuk dalam jajaran kota dengan suhu permukaan tertinggi di dunia. Kondisi itu diperparah oleh masifnya pembangunan dan semakin sempitnya ruang hijau di ibu kota.

“UHI ini harus kita mitigasi bersama. Perlu kesadaran dan aksi nyata menghadapi UHI ini,” kata Dwikorita pada 2024 lalu.

Tak hanya itu, polusi kendaraan, penggunaan AC berlebihan, hingga padatnya bangunan tinggi membuat sirkulasi udara Jakarta semakin buruk. Panas pun terjebak di tengah kota dan sulit keluar.

Dalam 30 tahun terakhir, BMKG mencatat efek Urban Heat Island terus meningkat. Perubahan lahan hijau menjadi kawasan beton disebut membuat Jakarta kehilangan pendingin alami yang selama ini membantu menurunkan suhu udara.

Penelitian terbaru yang dimuat jurnal Nature juga memperkuat fakta tersebut. Studi itu menemukan pepohonan kota memang bisa menurunkan suhu hingga 1,5 derajat Celsius. Namun Jakarta justru menghadapi masalah serius karena kawasan padat penduduk memiliki vegetasi yang sangat minim.

Akibat kombinasi beton, kendaraan, polusi, dan kurangnya pohon, Jakarta kini disebut menghadapi ancaman panas ekstrem yang makin sulit dikendalikan. Jika pembangunan terus tak terkendali tanpa penambahan ruang hijau, ibu kota diprediksi bakal terasa semakin mendidih di tahun-tahun mendatang. (ads)