KANALNEWS.co, Jakarta – Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono menuding ada bandar besar yang bermain dengan naiknya harga cabai dipasaran pasalnya tidak ada masalah dari pasokan petani dan hal ini terkait kasus kartel cabai yang terjadi.
“Masalahnya ada pengepul besar. Jadi bahasa saya itu bandar besar,” katanya kepada wartawan saat ditemui di Gedung Kementerian Pertanian, Senin (6/3/2017).
Ia menyatakan bandar besar tersebut terdapat di hampir seluruh sentra cabai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara. Bandar tersebut diyakininya juga memiliki kaki kanan lagi.
Sebelumnya pada akhir pekan lalu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) mengungkap tiga pengepul yang terlibat kasus kartel cabai yang terindikasi mendapat order sejak Desember dengan harga Rp180 ribu per kilogram (kg).
“Padahal kita tahu bersama naiknya 4 Januari, dari 25 ribu jadi 80 ribu di 4 Januari,” katanya lebih lanjut.
Menurutnya, harga tersebut juga tidak turun turun meski pasokan sudah bertambah. Pasar Cibitung dan Tanah Tinggi pasokan stabil 40 ton per hari namun pihaknya mempertanyakan pasokan di pasar induk yang sangat rendah.
“Yang menarik kenapa Kramat Jati rendah padahal jadi pusat sentral pasokan,” tanyanya.
Ia menjelaskan semua pihak termasuk Kementerian Perdagangan telah bergerak. Namun ia melihat ada hal aneh lantaran secara bersamaan, ada enam perusahaan melakukan order kepada pengepul besar dengan harga Rp180 ribu per kg cabai. “Pedagang itu tidak salah, yang salah itu kalau ada mufakat bersama,” katanya.
Jika perusahaan besar tersebut membutuhkan cabai bisa menyiapkan lahan tanam cabai sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Sedikitnya satu pabrik membutuhkan 125 ton cabai per bulan dan hal itu akan mengganggu harga dipasaran.
“Kalau perlu ada MoU, dia bangun lapangan tambah tanam juga, jangan yang sudah jalan ini di cut dengan harga tinggi,” ujar dia. (Setiawan)









































