Foto dok ist

Kanalnews.co, JAKARTA- Misteri hilangnya lima jurnalis yang tengah meliput erupsi Gunung Anak Krakatau semakin menyita perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi cuaca saat rombongan tersebut terakhir diketahui keberadaannya.

Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramudawardani, mengatakan kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9) tergolong baik. Tidak ada indikasi hujan lebat maupun cuaca ekstrem ketika rombongan mulai hilang kontak.

“Jam 2.00 sampai jam 6.00 sore itu kondisi cuacanya baik. Jadi tidak terindikasi atau tidak terdeteksi adanya hujan,” ujar Ida di kompleks parlemen, Kamis (10/9).

Kecepatan angin saat itu tercatat maksimal sekitar 15 knot atau 7,5 meter per detik. Sementara tinggi gelombang laut disebut hanya mencapai sekitar satu meter.

Kondisi tersebut membuat faktor cuaca dan gelombang besar dinilai bukan sebagai ancaman utama bagi rombongan.

Namun, ada satu kondisi lain yang justru menjadi perhatian serius: debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan pemantauan citra satelit, debu dari aktivitas erupsi masih terlihat membumbung sangat tinggi. Bahkan, sebarannya terpantau mencapai sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer dari permukaan laut.

“Karena pada saat hari Senin itu masih debu itu masih terpantau dari citra satelit sampai dengan ketinggian sekitar 50.000 feet ya, sekitar 15.000 meter,” kata Ida.

Lima jurnalis tersebut dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten.

Tujuan mereka adalah meliput langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau yang tengah mengalami erupsi sejak akhir pekan.

Bukan hanya lima jurnalis, di dalam kapal tersebut juga terdapat dua awak kapal dan seorang pemandu. Total terdapat delapan orang dalam rombongan.

Kelima jurnalis yang berada dalam speedboat tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal, seorang pewarta lepas.

Sementara dua awak kapal adalah Warta (55) dan Surakman (60). Mereka juga didampingi seorang pemandu bernama Heriyanto (49). (ads)