Ilustrasi vaksin (pixabay)

Kanalnews.co, JAKARTA- Seorang anak SD meninggal dunia setelah divaksinasi Pfizer. Ketua Komisi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A (K), M.TropPaed menduga penyebab kematian anak tersebut tak terkait vaksin.

Seorang anak 12 tahun di Jombang, Jawa Timur, diketahui meninggal dunia kurang dari 24 jam usai divaksinasi Pfizer. Ia mengikuti vaksin dengan jadwal mundur karena menjalanin khitan lebih dulu.

Namun delapan hari setelah dikhitan, anak tersebut menjalani vaksinansi dengan proses screnning lebih dulu. Berdasarkan hasil screnning, anak tersebut sudah tak meminum obat khitan.

Menurut Prof Hindra berdasarkan hasil investigasi penyebab kematian anak tersebut bukan karena vaksin. Apalagi tidak ada data laboratorium, CT scan, atau pemeriksaan lain yang bisa dianalisis lebih lanjut.

Ia menilai gejala yang dialami anak tersebut bisa karena beberapa faktor. Salah satunya tadang otak hingga pecahnya pembuluh darah.

“Jadi kita kan sudah audit bersama Komda KIPI. Hasil investigasi mereka kita berkesimpulan tidak terkait vaksinasi,” ujar Prof Hindra.

“Namun, untuk mengetahui pasti penyebab kematian kita tidak cukup bukti karena anak itu divaksinasi kemudian pulang sudah pusing, dibawa ayahnya ke sawah main game, kemudian pulang lagi magrib, subuh muntah kemudian diare kemudian ada penurunan kesadaran besoknya dia dibawa ke puskesmas kemudian meninggal,” sambungnya.

“Nggak ada data lab, ct scan nggak ada, pemeriksaan lain nggak ada. Demam, penurunan kesadaran, muntah, diare, bisa radang otak. Penurunan kesadaran, muntah, bisa karena pecahnya pembuluh darah tapi itu nggak bisa kita buktikan,” katanya

Dugaan penyebab kematian bukan karena vaksin juga diperkuat dengan tidak ada laporan dari anak-anak yang lain yang divaksin bersamaan.

“Justru itu nggak ada laporan yang seperti dialaminya, nggak ada yang serupa baik di negara lain dan di Indonesia, jadi memang sulit menyebabkan kepastiannya. Jadi kita beranggapan saat ini bukti yang ada tidak menunjukkan terkait vaksiansi,” katanya. (ads)