
Kanalnews.co, JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik yang menyebut aktivitas diplomasi Presiden Prabowo Subianto di berbagai negara hanya sebatas seremoni dan pencitraan politik. Teddy menegaskan anggapan tersebut tidak berdasar karena sederet kunjungan luar negeri Prabowo telah menghasilkan manfaat nyata bagi Indonesia.
Menurut Teddy, selama 1,5 tahun terakhir, diplomasi yang dijalankan Prabowo berhasil membuka banyak peluang strategis, mulai dari perdagangan, investasi, pertahanan, hingga penguatan posisi Indonesia di panggung internasional.
“Kalau ada yang bilang hanya gagah-gagahan atau seremonial, itu salah besar. Yang harus dilihat adalah hasil konkret yang sudah dirasakan Indonesia,” tegas Teddy dalam keterangan video yang diunggah Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).
Teddy kemudian membeberkan sejumlah capaian yang diklaim lahir dari pendekatan diplomasi aktif Prabowo. Salah satunya adalah keberhasilan Indonesia bergabung dengan BRICS, kelompok ekonomi besar dunia yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah gejolak global.
Tak hanya itu, pemerintah juga berhasil menuntaskan kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa yang memberikan tarif nol persen bagi berbagai produk Indonesia. Kesepakatan yang sempat mandek selama bertahun-tahun itu akhirnya tercapai pada masa pemerintahan Prabowo.
“Kemudian yang kedua, tarif 0 persen di Uni Eropa, ada 25 negara di situ. Dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu, tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo, tepatnya tahun 2025 lalu,” ujarnya.
Di sektor ekonomi, Teddy menyebut Indonesia sukses menarik investasi hingga Rp2.430 triliun dalam kurun waktu 1,5 tahun. Bahkan, kunjungan Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan baru-baru ini disebut menghasilkan tambahan komitmen investasi sekitar Rp575 triliun.
Pada bidang pertahanan, Teddy menilai posisi Indonesia semakin kuat berkat kerja sama strategis dengan sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Prancis, Rusia, China, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya. Kerja sama tersebut berdampak pada penguatan kemampuan alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional.
Teddy juga menyinggung keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji yang dinilai semakin baik, termasuk keberadaan perkampungan haji Indonesia di Arab Saudi yang disebut menjadi fasilitas istimewa dan tidak dimiliki negara lain.
Selain itu, ia menyoroti peran aktif Indonesia dalam membantu Palestina. Mulai dari pengiriman bantuan logistik melalui udara, pengoperasian kapal rumah sakit, hingga pemberian beasiswa kepada puluhan pelajar Palestina untuk menempuh pendidikan di Indonesia.
“Kemudian yang keenam, Presiden Prabowo betul-betul berperan aktif di Palestina. Apa buktinya? Satu, kita ada drop-off logistik dari udara, sudah beberapa kali. Tidak semua negara bisa, kenapa? Itu harus ada diplomasi dengan negara-negara yang wilayah udaranya dilewati oleh pesawat,” ujarnya.
“Kemudian yang kedua, kita kirim kapal rumah sakit ke Palestina. Kemudian yang ketiga, kita menyekolahkan anak-anak Palestina di universitas di Indonesia, sekarang mungkin sudah sampai 100 orang yang sudah sekolah di sini, dan lain sebagainya,” lanjut Teddy.
Bahkan, Teddy mengungkapkan diplomasi Indonesia juga berhasil memulangkan seorang WNI yang sempat diamankan oleh otoritas Israel di laut bebas hanya dalam hitungan hari.
Menjawab kritik soal intensitas pertemuan Prabowo dengan para pemimpin dunia, Teddy menegaskan seluruh agenda diplomasi disusun berdasarkan kepentingan nasional dan prioritas strategis negara, bukan sekadar pencitraan.
Untuk itu, Teddy meminta publik melihat hasil yang telah dicapai pemerintah secara objektif dan tidak menutup mata terhadap berbagai keuntungan yang diperoleh Indonesia dari diplomasi internasional yang dijalankan Presiden Prabowo.
“Masukan tentu kami terima, tetapi jangan sampai fakta-fakta keberhasilan yang sudah dicapai justru diabaikan,” pungkasnya. (ads)




































