Kanalnews.co, TUBAN – Kabupaten Tuban merupakan kawasan Daulat Pangan nasional, dalam satu tahun petani bisa panen tiga kali dengan rata-rata hasil 6 sampai 10 ton dalam 1 hektar sawah.

Dengan adanya isu bahwa pemerintah akan membuka keran impor beras sebanyak satu juta ton, ini dianggap mematikan kesejahteraan petani. Karena rencana tersebut dilakukan berbarengan dengan masa panen raya.

Tidak hanya itu anjloknya harga gabah saat musim panen raya ini membuat petani merugi. Karena harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi. Dengan kebijakan yang tidak pro terhadap petani tersebut, puluhan petani di Kabupaten Tuban mengelar aksi Tolak Impor Beras.

Aksi itu di lakukan di area Daulat Pangan yang berada di Desa Senori, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, yang di ikuti para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI), pada Minggu, (14/03/2021).

Salah satu petani, Nur Hadi (55) mengatakan, pada aksi Tolak Impor Beras ini merupakan kebijakan yang akan menyengsarakan petani, dimana nantinya nilai jual hasil panen akan rendah.

“Desa Senori merupakan kawasan Daulat Pangan dengan luasan 260 hektar, yang setiap tahunnya bisa panen tiga kali. Rata-rata dalam satu hektar bisa panen 6 samapi 10 ton, ini menandakan bahwa kita surpulus dalam sektor pangan,” kata Nur Hadi.

Nur Hadi yang juga ketua SPI Tuban secara tegas menolak adanya kebijakan impor beras. Menurutnya saat ini tidak ada alasan bagi pemerintah untuk melakukan impor.

“Kami petani di Kabupaten Tuban siap mensuplay stok beras, jika nanti impor beras ini dihentikan. Karena saya rasa stok pangan khususnya beras di dalam negeri saat ini sangat memenuhi,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Pusat Pembenihan Nasional SPI, Kusnan mengungkapkan, bahwa selama ini hasil panen komoditas petani masih minim penyerapannya oleh pemerintah.

“Kalaupun ada penyerapan hasil panen oleh pemerintah baik itu dari bulog, saya rasa Indonesia tidak perlu lagi impor beras,” ucap Kusnan yang juga merupakan putra daerahTI  Tuban.

Kusnan juga menilai bahwa selama tiga tahun terakhir dari mulai tahun 2018 sampai 2020 ini tidak ada penyerapan dari bulog. Para petani masih menjual hasil panennya ke pedagang atau tengkulak.

“Dikawasan daulat pangan sudah membentuk Koperasi Petani Indonesia (KPI), dimana koperasi tersebut menyerap hasil panen petani. Dan melakukan pemasarannya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan lain sebagianya,” pungkasnya. (swt)