
Kanalnews.co, JAKARTA– Dinas Kesehatan DKI Jakarta membantah adanya peningkatan kasus Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Ibu Kota. Penyakit tersebut juga bukan disebabkan oleh polusi udara.
Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama menjelaskan peralihan cuaca menjadi penyebab utama kasus tersebut.
“Iya benar (bukan karena polusi udara). Lebih pengaruh ke iklim,” kata Ngabila seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (11/8).
Jika karena dampak polusi udara, pada umumnya penyakit yang muncul adalah radang paru, PPOK, dan asma. Bahkan yang lebih parah adalah hipertensi dan jantung.
“Jelas pengaruh paling kuat adalah kondisi pancaroba atau peralihan cuaca,” kata Ngabila.
Untuk itu, ia menegaskan tidak ada peningkatkan kasus ISPA dari April hingga Juli. Jumlahnya masih di batas normal yaitu 100 ribu warga Jakarta setiap bulan.
“Hanya 0,9 persen warga DKI Jakarta terkena batuk pilek ISPA atau pneumonia setiap bulannya (rata-rata 100 ribu kasus dari 11 juta penduduk),” ungkapnya.
Ngabila menyampaikan penyakit ISPA paling banyak menjangkit pada Maret dengan 119.734 kasus. Sementara Januari ada 102.609 kasus, Februari ada 104.638 kasus, dan April ada 109.705 kasus. Kemudian, Mei ada 99.130 kasus serta Juni ada 102.475 kasus.
Namun demikian, Ngabila tetap meminta masyarakat menggunakan masker saat berada di luar ruangan.
Kualitas udara di Jakarta belakangan kian memburuk akibat polusi udara. Bahkan menjadi nomor dua terburuk di dunia pagi ini, Jumat, 11 Agustus 2023 per pukul 06.00 WIB berdasarkan pantauan situs IQAir. (ads)




































