KANALNEWS.co, Sillicon Valley – Pendiri Facebook Mark Zuckerberg membantah berbagai tudingan yang menyatakan berita hoax yang dibagikan di akun sosial media yang dibuatnya dapat mempengaruhi pemilihan Presiden Amerika Serikat, hingga secara tak terduga konglomerat dan pebisnis properti Donald Trump bisa mengalahkan mantan Menlu dan Senator AS Hillary Clinton pada pemilihan Presiden Amerika Serikat.
“99 persen konten yang ada di Facebook adalah asli. Berita palsu yang tersebar di media sosial miliknya itu hanya berjumlah sebagian kecil,” katanya lewat akun Facebook resminya Minggu, 13 November 2016.
Salah satu milader termuda di dunia itu dalam statusnya juga bercerita setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden, banyak pertanyaan muncul tentang kontribusi berita bohong terhadap hasil Pemilu dan bagaimana perusahaan sosial media mengatasinya.
Mark berjanji akan mencari cara untuk mencegah tersebar luasnya berita hoax di Facebook dan Ia menambahkan hoax yang ada di Facebook tidak melekat pada suatu paham atau pandangan politik tertentu. “Secara keseluruhan, ini sangat tidak mungkin hoax dapat mengubah hasil pemilu,” ujarnya.
Mark yang pernah mengunjungi candi Borobudur itu memastkan Facebook bertujuan membuat penggunanya menemukan informasi yang penting dan berita yang akurat. Perusahaannya telah bekerja untuk mengaktifkan fitur yang memungkinkan masyarakat dapat menandai berita-berita palsu.
“Kami telah membuat kemajuan, dan kami akan terus bekerja lebih lanjut untuk meningkatkan hal ini,” katanya lebih lanjut.
Namun, pekerjaan untuk mengidentifikasi ‘kebenaran’ dianggap hal yang rumit. Meski begitu ia yakin pihaknya dapat menemukan cara untuk menginformasikan pada pengguna mana konten yang paling penting.”Tapi untuk menjadi penengah dari kebenaran itu, kami harus sangat hati-hati,” katanya.
Pekerjaan ini dianggap akan memakan waktu yang lebih lama ketimbang pembaruan-pembaruan yang telah Facebook lakukan, di samping hal itu, Zuckerberg merasa bangga karena Facebook berperan dalam membantu lebih dari dua juta warga Amerika Serikat untuk memilih. Selain itu, membantu publik untuk berinteraksi langsung dengan calon presiden pilihannya.
“Yang paling penting, kami memberikan alat bagi puluhan juta orang untuk berbagi miliaran pos dan reaksi tentang pemilihan ini. Banyak dialog yang mungkin tidak terjadi tanpa Facebook,” katanya. (Setiawan)








































