KANALNEWS.co, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya serius akan memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, kendati pemerintahan barus negara Paman Sam pada pernyataannya di Gedung Putih Minggu waktu AS menyatakan wacana itu barulah pada tingkat awal sekali.
Gedung Putih menyatakan baru pada tahap awal sekali untuk membicarakan upaya memenuhi janji Donald Trump memindahkan kedubes AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem dan jika hal itu benar-benar dilakukan oleh Trump yang baru dilantik sebagai presiden Amerika Serikat ke-45 pada 20 Januari lalu, maka dunia Arab, bahkan dunia Islam, akan marah besar.
“Kami bahkan baru pada tingkat yang awal sekali dalam membahas subyek ini,” kata Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer seperti dikutip Reuters.
Gedung Putih memastikan tidak akan tergesa-gesa memindahkan lokasi kedubes AS di Israel itu. Selama ini, seperti kebanyakan kedubes asing lainnya, kedubes AS terletak di Tel Aviv.
Israel menyebut Yerusalem ibu kota abadinya, namun Palestina juga mengklaim kota itu bagian tak terpisahkan dari Negara Palestina. Kedua pihak mendasarkan klaim mereka dari alasan keagaman, sejarah dan politik.
Selama berkampanye sebagai calon Presiden, konglemerat properti Amerika Serikat itu berjanji memindahkan kedubes AS di Israel ke Yerusalem. Namun jika itu dilakukan pasti mengundang protes keras dari sekutu-sekutu AS di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordania dan Mesir. Ketiga negara iniĀ sangat diandalkan AS dalam memerangi ISIS yang dianggap Trump sebagai prioritas kebijakannya.
Pada 1995 Kongres AS meloloskan undang-udang bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel dan tidak boleh dibagi dua. Namun para presiden AS baik dari Demokrat maupun Republik, sebelum Trump, mempertahankan kedubes AS tetap di Tel Aviv. Mereka juga menyokong setiap negosiasi antara Israel dan Palestina menyangkut status Yerusalem, demikian Reuters. (Setiawan)





































