KANAL.NEWS.co – Jakarta, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengatakan Indonesia memiliki wisata olahraga udara yang potensial untuk menarik minat wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

”Wisata olahraga yang berpotensi bukan hanya darat dan laut, tetapi juga di udara seperti paralayang, terjun payung dan gantole,” katanya saat dalam seminar nasional “Regulasi dan Peluang Sport Tourism untuk Mengoptimalkan Wisata Daerah” di Wisma Antara, Jakarta,
Jumat (21/12/2012).

Menurut Wamen, wisata olahraga juga mempunyai daya saing tinggi yang dapat mendatangkan keuntungkan daerah terkait.

“Tidak semua daerah bisa dijadikan tempat untuk jenis olahraga tersebut,” katanya.

Selain itu, Sapta menilai potensi wisata olahraga udara tersebut bisa dijadikan promosi daerah untuk dijadikan tujuan wisata, dan pada 2013 wisata olahraga udara juga akan dijadikan potensi utama.

“Dampak wisata olahraga terhadap perekonomian nasional ini besar sekali,” katanya.

Adapun beberapa cabang atau kegiatan olahraga yang paling berpotensi di Indonesia, seperti tenis, sepakbola, Jakarta Marathon, balap mobil/motor, Musi Triboatton, menyelam, berselancar dan wisata layar/sailing.

Namun, dia mengakui pengembangan pariwisata baik darat, laut maupun udara harus didukung dengan infrastruktur yang memadai.

Sapta menambahkan, wisata olahraga efektif untuk mempromosikan daerah-daerah wisata di Indonesia yang sekaligus menjadi rangkaian tempat diselenggarakannya kegiatan olahraga.

“Dengan, adanya ‘sport tourism’ (wisata olahraga -red), promosi destinasi wisata daerah menjadi lebih mudah karena sering dimasukan ke dalam paket tur,” katanya.

Wisata olahraga merupakan salah satu segmen yang berkembang sangat luas dan cepat dalam industri perjalanan dan pariwisata.

“Tanpa melalui wisata olahraga, perkembangan promosi agak lama dan klasik,” katanya.

Menurut dia, wisata olahraga dapat mengundang banyak pengunjung baik dari wisatawan lokal, maupun mancanegara.

“Olahraga itu butuh penonton, sekaligus menarik perhatian mereka untuk ikut serta meramaikan kegiatan olahraga tertentu,” katanya.

Dia mencontohkan salah satu kegiatan olahraga tahunan di Sumatera Barat, yakni “Tour De Singkarak” yang bisa menghasilkan pendapatan daerah dan mampu menutupi biaya operasional kegiatan tersebut.

“Semakin banyak penonton, semakin banyak juga sponsor dan iklan yang bisa menyumbang perekonomian nasional. Apabila penonton datang dari seluruh dunia, jumlahnya bisa miliaran rupiah,” katanya.

Sapta menyebutkan kegiatan olahraga terbesar empat tahunan Piala Dunia Afrika Selatan 2010 yang sangat berpengaruh terhadap negara tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut.

“Semua mata tertuju pada negara kelahiran Nelson Mandela itu, bahkan berdampak pada kenaikan perekonomiannya. Jika dilihat dari segi makro ekonomi, kenaikan tersebut bisa mencapai lima hingga 10 persen,” katanya.

Dia mengatakan kegiatan olahraga tersebut juga mendatangkan insentif yang tinggi.

“Penonton berkunjung tidak hanya untuk menonton pertandingan, tetapi mereka juga berwisata budaya, kuliner dan sebagainya. Jadi olahraga dan wisata ini sektor yang berintegrasi,” katanya.

Menurut dia, wisata olahraga juga tidak terbatas pada kegiatan di luar ruangan, tetapi juga bisa dilakukan di dalam ruangan, seperti ski di Dubai.

“Apapun bisa dilakukan untuk menarik minat wisatawan lokal maupun internasional,” katanya.

 

Penulis : Herwan Pebriansyah