Oleh : Herwan Pebriansyah
KANALNEWS.co, Jakarta – Sebagai salah satu Universitas swasta bertaraf internasional pertama di Indonesia yang di akui oleh DIKTI, Swiss German University (SGU) meluncurkan karya hasil riset terbaru mereka berupa alat pengukur tekanan darah (Tensimeter) bebas Mercury.
Staff pengajar SGU, Aulia Iskandar yang merupakan dosen pembimbing riset mahasiswa dalam pembuatan alat tensi meter ini mengatakan, untuk barang sejenis produk ini merupakan model pertama di Asia Tenggara.
“Mulai tahun 2015, World Health Organization (WHO) melarang penggunaan Mercury untuk seluruh alat kesehatan, kami mencoba merespon hal tersebut dengan memberikan solusi berupa alat tensimeter yang bebas Mercury,” ujar Aulia.
Selama ini hampir semua Rumah Sakit dan tempat pelayanan kesehatan di Indonesia masih menggunakan alat pengukur tekanan darah yang mengandung Mercury di dalamnya, pelarangan oleh WHO nantinya tentu akan berdampak besar bagi operasional sehari-hari di rumah sakit tersebut.
Sementara Tensimeter digital yang juga saat ini sudah banyak beredar, Alat tensimeter yang dikembangkan oleh mahasiswa SGU ini merupakan gabungan antara tensimeter manual dan digital
“Para petugas kesehatan nantinya tidak perlu di training dan melakukan penyesuaian lagi karena mereka sudah terbiasa dengan jenis yang seperti ini” tambah Aulia.
Acara ini dilakukan disela-sela Konferensi Internasional bidang Teknik Biomedika dan Aplikasi Pengobatan atau International Conference on Biomedical Engineering and Medical Applications yang di langsungkan di German Center, BSD City Tangerang.
Menteri Kesehatan yang diwakili oleh Linda Maura Sitanggang, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia sangat menyambut baik riset-riset mahasiswa di bidang alat-alat kesehatan.
“Nantinya, kita berharap anak-anak Indonesia mampu mengatasi pembatasan-pembatasan oleh badan dunia tanpa bergantung kepada impor alat-alat dari Luar Negeri”, ujarnya.
Alat tensimeter yang dikembangkan selama kurang lebih 4 bulan ini tidak menutup kemungkinan untuk di produksi secara massal, mengingat biaya pembuatan dan materialnya yang sangat terjangkau sehingga biayanya bisa di tekan hingga dibawah 500 ribu rupiah per unitnya,
“Memberikan solusi kesehatan adalah satu hal, namun memberikan manfaat untuk banyak orang dengan biaya yang murah juga harus diperhatikan, dan itu yang coba kami lakukan,” tandas Aulia.








































