KANALNEWS.co, Jakarta – Harga emas mengalami turbulensi cukup dalam pada perdagangan kemarin setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan pada Desember mendatang.

Dilansir Nasdaq, Selasa (26/9) memberitakan, secara teknikal dengan penurunan tersebut maka harga emas di pekan ini bisa kembali naik karena tekanan yang dialami pada minggu kemarin cukup dalam. Sementara, pada perdagangan Jumat lalu harga emas turun hampir 1 persen ke posisi terendah dalam empat pekan. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun US$ 21,50 per ounce menjadi US$ 1.294,90 per ounce.

Dijelaskan dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan kebijakan dua harinya, the Fed mengindikasikan masih mengharapkan satu hal lagi kenaikan suku bunga pada akhir tahun meskipun baru-baru ini inflasi melunak.

Menurut The Fed berencana untuk memangkas kepemilikan aset sebesar US$ 4,2 triliun yang telah dibangun sejak krisis di 2008.

Analis FX Empire Christopher Lewis memperkirakan harga emas berada pada kisaran US$ 1.300 per ounce. “Jika ada momentum yang tepat harga emas bisa mencapai US$ 1.3002 per ounce,” ujarnya.

Diperkirakan, harga emas masih mengalami tekanan yang signifikan jika terdapat sentimen negatif yang cukup besar. Misalnya, data-data ekonomi Amerika Serikat (AS) bergerak membaik dan mendorong penguatan dolar AS, ini akan membuat harga emas makin melemah. (mulkani)