Kanalnews.co, TUBAN – Nelayan tradisional di Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban tak bisa melaut setiap hari karena cuaca yang tidak bersahabat. Gelombang tinggi dan hujan badai bisa terjadi setiap saat. Kondisi ini sangat berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang mengantungkan ekonomi dari hasil laut.

“Tidak bisa miyang (melaut) saat cuaca seperti ini. Angin lebat dari barat, ombak besar, belum lagi badai yang muncul tiap waktu.” Jelas Kasrowi, Nelayan Desa Banjarjo Kecamatan Bancar, Senin (31/01/2022).

Alhasil, kebanyakan para nelayan tidak berani untuk pergi melaut, karena cuaca yang ekstrem tersebut. Dia mengungkapkan, bahkan hampir 3 minggu dia dan kawan kawan nelayannya tidak melaut. “Belakangan ini cuacanya sedang tidak cocok (ekstrem) untuk melaut. Sudah 3 mingguan kami tidak miyang.” Pengakuan Owi, panggilan akrabnya.

Selain itu, dia juga menjelaskan, kondisi cuaca demikian juga membuat jumlah ikan tangkapan pun sedikit. Faktor keselamatan dan jumlah tangkapan yang sedikit itulah sangat tidak memungkinkan untuk melaut.

“Cuaca buruk, jumlah ikan juga sedikit saat kondisi seperti ini. Angin dari barat ombak dari timur, ikan jadi terombang ambing.” Lanjut nelayan muda tersebut.

Dia menambahkan, saat gelombang tinggi hanya nelayan dengan jaring khusus untuk menjaring rajungan atau udang yang panen. “Rajungan justru mudah diperoleh saat gelombang tinggi seperti ini karena terbawa arus. Sedang nelayan kecil yang tidak punya pekerjaan lain ya menganggur.” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun BMKG Tuban, Zem Irianto Padama menjelaskan, berdasarkan data BMKG, Kabupaten Tuban masuk dalam puncaknya musim penghujan karena fenomena La Nina di bulan Januari dan Februari tahun 2022.

“Fenomena La Nina itu fenomena alam yang bisa meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia. Badai pastinya akan terjadi di tengah laut.” Jelasnya.

Dia melanjutkan, ada peningkatan angin muson Barat di bulan Januari dan awal Februari, sehingga dapat memicu potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Jawa Timur, khususnya di Laut Jawa bagian Timur. Dengan perkiraan gelombang tinggi sekitar 1,5 meter sampai 3,25 meter.

“Gelombang tinggi tersebut dipicu oleh kecepatan angin dan kedalaman laut.” Pungkasnya. (USUL/MET)