
Kanalnews.co, JAKARTA– Indonesia kian mendekati tonggak penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik. Pemerintah menargetkan peresmian pabrik baterai mobil listrik terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, pada semester pertama 2026, seiring percepatan program hilirisasi mineral strategis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan fasilitas tersebut menjadi bagian dari penguatan rantai industri baterai nasional berbasis nikel. Proyek ini digarap bersama oleh PT Antam, konsorsium BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC), serta konsorsium perusahaan asal China yang terdiri dari CATL, Brunp, dan Lygend (CBL).
Pembangunan pabrik tersebut telah dimulai sejak Presiden Prabowo Subianto melakukan peletakan batu pertama pada Juni 2025. Bahlil menegaskan, penyelesaian proyek berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan pemerintah.
“Hilirisasi khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di grounding oleh Bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL direncanakan pada semester 1 2026 itu sudah kita resmikan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Capaian Kinerja Sektor ESDM 2025 di Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Dijelaskan Bahlil, kehadiran pabrik di Karawang akan melengkapi fasilitas serupa yang telah lebih dulu ada. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki dua pusat produksi baterai kendaraan listrik berbasis nikel dengan sistem terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Jadi berarti sudah ada 2 nanti pabrik baterai kita di Indonesia yang ekosistem baterai mobil dari nikel,” katanya.
Presiden Prabowo sebelumnya menekankan proyek baterai berskala besar ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga penciptaan nilai tambah nasional. Ia memperkirakan nilai ekonomi yang dihasilkan dapat mencapai delapan kali lipat dari investasi awal.
Nilai investasi proyek ini tercatat sebesar US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 95,43 triliun. Dari jumlah tersebut, potensi dampak ekonomi diproyeksikan menembus US$ 48 miliar atau setara Rp 776 triliun.
“Jadi memang tadi saya katakan proyek ini terobosan dengan investasi US$ 5,9 miliar akan hasilkan nilai US$ 48 miliar diperkirakan, 8 kali nilai tambahnya,” ujar Prabowo.
Selain mendorong pertumbuhan industri, proyek ini juga diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah. Pemerintah memperkirakan sekitar 35 ribu lapangan kerja tidak langsung dapat tercipta, sementara penyerapan tenaga kerja langsung mencapai sekitar 8 ribu orang.
Dari sisi energi dan transportasi, pabrik dengan kapasitas produksi baterai hingga 15 gigawatt (GW) ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan 250 ribu hingga 300 ribu kendaraan listrik. Dampaknya, impor bahan bakar minyak (BBM) berpotensi ditekan hingga 300 ribu kiloliter. (ads)




































