KANALNEWS.co, Jakarta – PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) pada Kamis (24/3) menggelar diskusi kesehatan Nutritalk yang menghadirkan para pakar kesehatan dan ahli gizi anak. Pada bulan ini Nutritalk yang di gelar di Jakarta itu mengambil tema ‘Early Life Nutrition : Dasar-dasar Praktis dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi’.
Arif Mujahdin, Head of Corporate Affairs Sarihusada mengatakan, pokok kesimpulan dari diskusi yang menghadirkan wartawan, blogger dan pemerhati kesehatan ini adalah anak-anak dengan faktor risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi memerlukan upaya penanganan sejak dini untuk optimalisasi tumbuh kembang anak dan pencegahan dampak jangka panjang.
“Salah satu penanganan sejak dini adalah pemberian nutrisi awal kehidupan yang tepat yaitu nutrisi yang mudah dicerna dan well toletared bagi anak-anak yang tidak toleran terhadap protein susu sapi. dan bagi anak-anak yang telah terkena alergi dibutuhkan nutrisi yang dapat menekan sensitisasi (tingkat alergi), aman dapat memenuhi semua gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,” kata Arif.
Pada Nutritalk kali ini juga diperkenalkan Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Kartu yang memuat nilai risiko keluarga pada ayah, ibu dan saudara kandung ini dapat membantu orang tua untuk menghitung risiko alergi pada anak sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin dan sekomprehansif mungkin.
“Kami membantu memperkenalkan tool dan menyelenggarakan diskusi ini sebagai bagian dari komitmen kami memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai alergi dan langkah-langkah praktis yang dapat di lakukan,” kata Arif.
Diskusi bulan ini menghadirkan narasumber Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes Konsultan Alergi Imunologi Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, dan DR. Dr. Rini Sekartini, SpA(K) Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM Jakarta.
Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes mengatakan, anak-anak dengan kedua orang tua memiliki riwayat alergi memiliki risiko alergi sebesar 40 persen-60 persen. “Risiko ini lebih besar lagi pada anak-anak dengan kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi dan manifestasi sama, yaitu sebesar 60 persen – 80 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak dengan salah satu orangtua memiliki riwayat alergi berisiko mengalami alergi sebesar 20-30 persen. Jika saudara memiliki riwayat alergi, anak berisiko mengalami alergi sebesar 25 persen – 30 persen. Bahkan anak dengan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi pun berisiko mengalami alergi sebesar 5-15 persen.
“Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi dan tumbuh kembang tidak terhambat. Khusus untuk anak-anak dengan risiko tinggi alergi karena riwayat orang tua, diperlukan pengawasan yang lebih intens untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal,” tambah Prof. Budi.
DR. dr. Rini Sekartini, SpA(K), dalam pemaparannya menjelaskan nutrisi awal kehidupan, yaitu nutrisi yang diterima anak sejak dalam kandungan sampai sekitar usia dua tahun, memiliki peran sangat besar pada kualitas tumbuh kembang anak dan tingkat kesehatan pada usia dewasa.
“Namun ada asupan nutrisi tertentu pada awal kehidupan, yang sebenarnya mengandung gizi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh-kembang yang optimal, tapi tidak bisa ditoleransi oleh anak-anak dengan risiko alergi,” paparnya.
Menurut Rini, pada awal kehidupan, asupan nutrisi yang mengandung protein susu sapi dapat berupa MPASI, makanan seimbang, maupun ASI dari ibu yang mengkonsumsi nutrisi yang mengandung proteni susu sapi. “Dibutuhkan intervensi nutrisi yang tepat bagi anak-anak dengan risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi sehingga anak terhindar dari alergen pemicu tapi tetap memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal,” demikian Dr Rini. (Herwan)






































