
Kanalnews.co, JAKARTA – Program MBG (makan bergizi gratis) dipastikan diliburkan selama periode Lebaran 2026. Kebijakan ini disebut bukan sekadar mengikuti jadwal libur nasional, tetapi juga menjadi langkah strategis pemerintah untuk menekan pengeluaran negara hingga triliunan rupiah.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa penyaluran MBG sudah dihentikan secara bertahap menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ia menyebut distribusi terakhir bagi siswa sekolah dilakukan pada pertengahan Maret.
“Untuk yang Idul Fitri, perlu saya sampaikan bahwa untuk anak sekolah, penyaluran terakhir tanggal 13 Maret. Kemudian, untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, terakhir hari ini,” kata Dadan kepada wartawan di kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, penghentian sementara ini akan berlangsung hingga perayaan Lebaran selesai. Pemerintah berencana menghidupkan kembali program unggulan tersebut pada 30 Maret.
“Setelah itu kita akan merayakan Idul Fitri dan program makan bergizi akan kembali operasional tanggal 31 Maret,” ujarnya.
Lebih jauh, Dadan menegaskan kebijakan ini juga membawa dampak penghematan anggaran yang sangat besar. Pemerintah memperkirakan potensi efisiensi mencapai sekitar Rp 5 triliun hanya dari penyesuaian operasional selama masa libur.
“Itu (penghematan) kurang lebih sekitar Rp 5 triliun ya, dihemat dengan seperti itu,” ungkap Dadan.
Ia menambahkan, BGN kini tengah melakukan berbagai kalkulasi untuk memastikan penggunaan anggaran semakin tepat sasaran. Langkah efisiensi dinilai penting di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.
“Tentu saja kita harus ikut memiliki sense of crisis dan kami sedang melakukan hal-hal yang memungkinkan penggunaan anggaran lebih efisien,” tuturnya.
Diketahui, BGN saat ini mengelola pagu anggaran jumbo sebesar Rp 268 triliun. Pemerintah berupaya mengoptimalkan dana utama tersebut tanpa harus menyentuh anggaran cadangan (standby) senilai Rp 67 triliun yang telah disiapkan sebagai bantalan fiskal.
“Kita optimalkan yang 268 (triliun) dan coba kita tidak hitung yang standby. Jadi kita akan efektifkan yang 268 (triliun) tersebut,” pungkas Dadan. (ads)



































