KANALNEWS.co, Jakarta – Wartawan peliput otomotif yang tergabung dalam komunitas Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) Kamis (23/2) menggelar diskusi bertema ‘Kesiapan Industri Sepeda Motor Indonesia Menuju Standar Euro-3 yang Ramah Lingkungan dan Hemat BBM’ di Aula Garda Oto Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan. Diskusi ini untuk mendorong produsen sepeda motor di Tanah Air untuk menstandarkan mesin motor Euro-3. Indonesia saat ini masih menerapkan Euro2 yang berlaku sejak 1 Januari 2005.
“Diskusi ini digelar untuk mendorong percepatan progam standarisasi mesin dengan Euro-3 di Indonesia. Kegiatan ini diharapkan mampu memberi masukan kepada industri otomotif khususnya roda-dua,” ujar Ketua Forwot, Eri Haryoko.Sementara itu dalam sambutannya, ketua AISI (Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia) Gunadi Sindhuwinata menyatakan bahwa anggota AISI siap memasuki era Euro-3 untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik di Indonesia. “Anggota AISI akan menerapkan standar Euro-3 terhadap semua produknya untuk mendukung program pemerintah dalam upaya ramah lingkungan dan hemat BBM,” ujar Gunadi.
Dalam kesempatan tersebut Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi menyatakan penerapannya membutuhkan waktu untuk proses penggantian mesin dan komponen pendukungnya. Salah satunya adalah ketersediaan bahan bakar beroktan 91 yang menjadi syarat standar emisi Euro-3. “Tinggal bagaimana kesiapannya saja,” kata Budi dalam diskusi “Kesiapan industri sepeda motor indonesia menuju standar Euro-3 yg ramah lingkungan dan hemat BBM,” ujar Budi Darmadi.
Lalu Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Karliansyah mengharapkan pengguna sepeda motor memakai bahan bakar sesuai dengan WWFC (World Wide Fuel Charter) kategori II. “Bagi industri sepeda motor, penerapan Euro-3 akan memberikan keuntungan bagi masyarakat, konsumen, pemerintah dan industri otomotif. Penetapan regulasi ini akan meningkatkan daya saing dengan industri di kawasan ASEAN,” ujarnya.
“Saat ini peraturan mengenai kendaraan bermotor di dunia sebagian besar mengacu ke regulasi yang dikeluarkan oleh UN-ECE (United Nation-Economic Commission for Europe). Untuk sepeda motor, regulasi yang paling mutakhir saat ini Euro-3, dengan metode uji menggunakan UN-ECE R40,” ujarnya.
Sebagai anggota AISI, produsen sepeda motor Honda telah siap menyambut era Euro3 dengan melakukan sejumlah pengembangan teknologi sepeda motor mereka. Salah satunya lewat penggunaan sistem injeksi bahan bakar yang pertama kali di Indonesia untuk sepeda motor .
Sejak tahun 2005, AHM telah memperkenalkan technology PGM-FI (Program fuel Injection) kepada masyarakat Indonesia melalui Honda Supra X 125 PGM-FI. Secara bertahap, semua produk Honda akan menggunakan teknologi PGM-FI. Langkah ini merupakan wujud komitmen perusahaan untuk menyediakan produk dan teknologi sesuai dengan harapan konsumen dan sejalan dengan kebijakan pemerintah.
Sementara itu produsen sepeda motor Yamaha juga tidak mau ketinggalan. Untuk memasuki standar Euro3 Yamaha menyiapkan sistem injeksi YMJET-Fi (Yamaha Mixture Jet-Fuel Injection) yang akan digunakan pada semua motor yang diproduksinya.“Yamaha sangat siap untuk menghadapi standar Euro-3 karena produk-produk Yamaha sudah disiapkan menuju standar tersebut, dilihat dari pengaplikasian mesin injeksi yang terdapat pada V-Ixion sejak 2007 dan Mio J yang keluar tahun ini. Selanjutnya, motor-motor Yamaha semuanya akan menggunakan injeksi,” ujar Asisten General Manager Service Yamaha Indonesia, M.Abidin,.
Demikian pula dengan produsen sepeda motor Suzuki yang menyatakan kesiapan mereka untuk memasuki era Euro3 lewat pengembangan teknologi yang akan diterapkan pada seluruh produk sepeda motornya.
Akan tetapi program ini tidak akan bisa berjalan semestinya jika ketersediaan bahan bakar yang memenuhi standar Euro-3 masih belum merata di Indonesia. Hal ini terungkap lewat data yang disodorkan oleh pihak Pertamina.
SPBU Pertamina yang menyediakan Pertamax yang memang telah memenuhi standar Euro-3 sangat terbatas. Di Pulau Jawa saja prosentase SPBU yang menjual Pertamax telah mencapai 66 persen, sementara di luar Jawa SPBU yang menyediakan Pertamax kurang dari 50 persen. Di Sumatera saja hanya 29 persen SPBU Pertamina yang menyediakan Pertamax, sementara di Kalimantan baru 46 Persen, sedangkan di Sulawesi tercatat 36 persen, NTT 31 persen.
Mananggapi hal itu Divisi Retail Fuel Marketing Pertamina, Windrian yang turut hadir pada dislkusi tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya, Pertaminasiap memasuki era Euro-3. “Prinsipnya Pertamina tinggal mengganti tangki Premium yang masih Euro2 menjadi tangki Pertamax yang sudah Euro3,” ujarnya. Ranoe Nirawan










































