KANALNEWS.co, Jakarta – Aksi demontrasi yang akan berlangsung pada, Jumat 4 November mendatang memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan hal itu, menurutnya, demo yang menuntut Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama dihukum terkait dengan penistaan agama itu dampaknya minim pada pergerakan IHSG jika berjalan dengan damai.

“Tapi kalau terjadi anarkis bisa menjadi negatif bagi pasar saham. Jika demo nanti tidak terkendali dapat menghilangkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di dalam negeri yang akhirnya dapat berdampak negatif bagi perekonomian,” ujarnya  di Jakarta, Rabu (2/11/2016).

Ia mengatakan, di pasar modaldalam beberapa hari terakhir ini pelaku pasar asing sudah mulai melakukan aksi beli saham. Diharapkan demo nanti berjalan kondusif sehingga tidak mempengaruhi psikologis pelaku pasar.

“Pak Presiden (Joko Widodo) juga telah menyampaikan, demonstrasi merupakan hak setiap warga negara, namun sesuai dengan ketentuan aturan yang ada,” katanya.

Berdasarkan data BEI, pada hari ini (Selasa, 2/11) investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp247,8 miliar. Sementara itu, jika dilihat sejak awal tahun hingga 2 November 2016, investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp32,91 triliun (year to date).

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan bahwa sejauh ini, pelaku pasar saham di dalam negeri tidak terpengaruh oleh sentimen demostrasi di dalam negeri.

“Pelaku pasar masih cukup aktif melakukan transaksi di pasar saham domestik meski ada isu demostrasi secara besar-besaran nanti,” katanya.

Sementara itu, pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada mengatakan bahwa sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat masih tetap menjadi fokus pasar.

“Saat ini, pelaku pasar cenderung mengantisipasi sentimen eksternal terutama dari pemilihan presiden Amerika Serikat dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mengenai kenaikan suku bunga acuannya,” katanya.

Ia juga percaya, unjuk rasa 4 November 2016 nanti akan berjalan damai karena mayoritas masyarakat Indonesia sudah cukup paham dampak negatif yang ditimbulkan jika terjadi aksi kekerasan.

“Jika terjadi kekerasan akan menjadi boomerang bagi masyarakat, situasi itu dapat menghilangkan kepercayaan asing dalam menempatkan dana investasinya di dalam negeri,” ujarnya. (Mulkani)